ABSTRAK Abbiya Syifa Allianjani
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 1 Abbiya Syifa Allianjani
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 2 Abbiya Syifa Allianjani
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 3 Abbiya Syifa Allianjani
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 4 Abbiya Syifa Allianjani
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 5 Abbiya Syifa Allianjani
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 6 Abbiya Syifa Allianjani
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
PUSTAKA Abbiya Syifa Allianjani
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
LAMPIRAN Abbiya Syifa Allianjani
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Pertumbuhan penduduk di kawasan perkotaan yang dipicu oleh urbanisasi
meningkatkan kebutuhan terhadap lahan hunian serta penyediaan infrastruktur
dasar. Kondisi tersebut kemudian mendorong muncul dan berkembangnya
permukiman informal di berbagai wilayah perkotaan. Kawasan ini umumnya
tumbuh secara bertahap dan masih menghadapi keterbatasan akses terhadap
layanan dasar, termasuk penyediaan air bersih. Air bersih menjadi kebutuhan
pokok yang berperan dalam menjaga kesehatan masyarakat, mendukung kualitas
hidup, serta menunjang keberlanjutan lingkungan tempat tinggal. Dalam konteks
pembangunan global, penyediaan air bersih menjadi bagian dari target
Sustainable Development Goals (SDGs), terutama pada Tujuan 6 yang
menekankan pemenuhan akses air minum dan sanitasi yang layak secara merata
dan berkelanjutan. Pada tingkat nasional, penyelenggaraan layanan air bersih
diatur melalui Peraturan Pemerintah Nomor 122 Tahun 2015 tentang Sistem
Penyediaan Air Minum yang menekankan pemenuhan aspek kualitas, kuantitas,
dan kontinuitas pelayanan. Namun, penyediaan air bersih pada kawasan
permukiman informal masih menghadapi berbagai kendala yang berpengaruh
terhadap kualitas layanan yang diterima masyarakat. Permasalahan tersebut tidak
hanya berkaitan dengan kecukupan pasokan air, tetapi juga berhubungan dengan
bagaimana masyarakat menilai layanan serta tingkat kepuasan yang dirasakan.
Kampung Pelangi 200 di Kelurahan Dago, Kota Bandung merupakan salah satu
kawasan permukiman informal perkotaan yang menjadikan layanan air bersih
sebagai bagian penting dalam menunjang kebutuhan domestik sehari-hari.
Berdasarkan kondisi tersebut, penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi
sistem penyediaan air bersih sekaligus mengidentifikasi tingkat kepuasan
masyarakat terhadap pelayanan yang diterima. Penelitian menggunakan
pendekatan mixed methods dengan menggabungkan metode kuantitatif dan
kualitatif. Data dikumpulkan melalui observasi lapangan, penyebaran kuesioner
kepada 150 responden, wawancara dengan masyarakat dan pihak terkait, serta
pengujian kualitas air di laboratorium. Selanjutnya, data dianalisis menggunakan
analisis deskriptif, analisis supply–demand air bersih, Importance–Performance
Analysis (IPA), dan evaluasi kualitas air berdasarkan hasil pengujian
laboratorium.
Perpustakaan Digital ITB