Sungai Citarum merupakan salah satu sumber daya air terpenting di Pulau Jawa yang memiliki peran strategis bagi kehidupan masyarakat dan industri, namun saat ini menghadapi tekanan pencemaran serius oleh berbagai jenis polutan akibat aktivitas industri yang intensif. Salah satu pencemar yang menjadi perhatian global adalah senyawa Per- and Polyfluoroalkyl Substances (PFAS), yakni kelompok senyawa sintetis yang bersifat sangat persisten, bioakumulatif, dan berpotensi toksik, khususnya pada senyawa Perfluorooctanoic acid (PFOA) dan Perfluorooctane sulfonate (PFOS). Karakteristik ikatan karbon-fluorin yang kuat dan kelarutan dan polaritas yang tinggi menjadikannya sulit terdegradasi di lingkungan, serta memungkinkan penyebarannya secara luas melalui media air seperti sungai. Studi ini bertujuan untuk mengevaluasi degradasi PFOA menggunakan teknologi yang sedang dikembangkan saat ini dan menilai risiko kesehatan manusia dan lingkungan terkait di bawah skenario degradasi yang berbeda. Sampel air yang mengandung PFOA mengalami perlakuan UV, Ozonasi, VUV, dan Sonolisis, menghasilkan efisiensi degradasi mulai dari 28% hingga 99,8%. Penilaian risiko kesehatan manusia dilakukan melalui konsumsi oral dan jalur paparan kulit menggunakan pendekatan Hazard Quotient (HQ) dan Hazard Index (HI). Risiko lingkungan dievaluasi menggunakan metode Risk Quotient (RQ). Jalur oral diidentifikasi sebagai jalur paparan dominan, dengan nilai HI melebihi 1 pada Skenario 1-4, sementara paparan kulit tetap dapat diabaikan. Setelah degradasi PFOA 99,8%, nilai HI menurun di bawah 1, menunjukkan tingkat risiko non-karsinogenik yang dapat diterima. Penilaian risiko lingkungan menunjukkan nilai RQ 0,000032–0,0158, sesuai dengan risiko ekologis yang dapat diabaikan hingga rendah. Hasil ini menunjukkan bahwa pengobatan Sonolysis secara efektif mengurangi konsentrasi PFOA dan risiko kesehatan manusia dan lingkungan terkait.
Perpustakaan Digital ITB