Studi ini mempelajari hubungan antara persepsi kepemimpinan transformasional dan motivasi kerja terhadap kinerja individu karyawan di PT Jakarta Railway. Selama enam tahun terakhir, kinerja perusahaan yang diukur melalui framework Balanced Scorecard secara konsisten capaiannya >100. Hal ini menunjukkan pelaksanaan operasional yang kuat. Namun, jika diobservasi lebih mendalam ditemukan bahwa: meskipun pencapaian KPI sangat baik, pendapatan non-tiket perusahaan (indikator utama penciptaan nilai strategis) menurun 30% dari tahun 2023 ke 2024. Salah satu indikasi tantangan yang mendasarinya adalah komposisi kepemimpinan, yang relatif muda dan terutama dikembangkan melalui keahlian teknis. Meskipun kompeten secara teknis, banyak pemimpin belum sepenuhnya mengembangkan kemampuan kepemimpinan transformasional yang dibutuhkan untuk mengartikulasikan visi strategis perusahaan, merangsang inovasi, dan menumbuhkan rasa memiliki terhadap tujuan lintas fungsi. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa kepemimpinan sering kali memengaruhi kinerja secara tidak langsung melalui mekanisme psikologis, termasuk motivasi kerja. Meskipun PT Jakarta Railway secara konsisten mencatat pencapaian KPI perusahaan yang tinggi, hal ini belum menghasilkan peningkatan yang signifikan dalam kinerja keuangan. Hal ini menunjukkan potensi ketidakselarasan antara indikator kinerja individu dan tujuan strategis organisasi. Pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan kuesioner yang dibagikan kepada karyawan di 3 direktorat core business, menggunakan instrumen: Multifactor Leadership Questionnaire (MLQ), the Work Extrinsic and Intrinsic Motivation Scale (WEIMS), dan Individual Work Performance Questionnaire (IWPQ) dianalisis menggunakan analisis regresi berganda. Studi ini menemukan hubungan positif yang signifikan antara kepemimpinan transformasional dan motivasi kerja karyawan, serta antara variabel-variabel ini dan kinerja individu. Berdasarkan temuan ini, studi ini merekomendasikan tiga tindakan organisasi utama: (1) berinvestasi dalam pengembangan kepemimpinan transformasional; (2) menyelaraskan kembali sistem manajemen kinerja untuk memperkuat hubungannya dengan penciptaan nilai strategis; dan (3) memupuk budaya sinergi strategis di seluruh fungsi untuk meningkatkan dampak kolektif pada tujuan organisasi.
Perpustakaan Digital ITB