digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Yasshirly Amria [27124047]
PUBLIC Open In Flipbook Noor Pujiati.,S.Sos

Batik sebagai warisan budaya takbenda Indonesia menghadapi tantangan berupa menurunnya pemahaman masyarakat terhadap nilai filosofis dan identitas budaya yang terkandung di dalamnya. Dalam konteks budaya kontemporer, pelestarian batik tidak lagi cukup dilakukan melalui pelindungan artefak, tetapi juga memerlukan pendekatan yang mampu menghadirkan kembali nilai-nilai budaya agar tetap relevan bagi masyarakat. Salah satu upaya tersebut dilakukan melalui program Angsukayana Batik Mangkunegaran 2023 yang diselenggarakan oleh Pura Mangkunegaran. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi nilai-nilai tradisi dan bentuk modernisasi yang dihadirkan dalam Angsukayana Batik Mangkunegaran 2023 serta menganalisis representasi harmonisasi tradisi dan modernisasi yang diwujudkan melalui program tersebut. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data dikumpulkan melalui studi dokumentasi, observasi visual terhadap koleksi batik dan penyelenggaraan program, serta wawancara semi-terstruktur dengan pihak Pura Mangkunegaran, Museum Tekstil Jakarta, Iwan Tirta Private Collection, akademisi, dan perajin batik. Analisis dilakukan melalui reduksi data, kategorisasi berdasarkan konsep tradisi, modernisasi, dan harmonisasi, kemudian diinterpretasikan menggunakan triangulasi sumber dan metode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai tradisi dalam Angsukayana direpresentasikan melalui koleksi batik klasik Mangkunegaran, karakter visual, dan nilai filosofis motif batik. Sementara itu, modernisasi diwujudkan melalui reinterpretasi motif batik, strategi penyajian budaya yang memadukan tata pamer kontemporer, media interpretatif, dan pagelaran busana, serta penyelenggaraan pengalaman budaya yang mengintegrasikan pendekatan culture knowledge dan culture experience. Harmonisasi antara tradisi dan modernisasi direpresentasikan melalui keterpaduan aspek visual dan aspek penyajian budaya. Pada aspek visual, harmonisasi tercermin melalui prinsip kesatuan, keseimbangan, dan penekanan yang mempertahankan identitas visual Batik Mangkunegaran sekaligus menghadirkan pengembangan desain yang kontekstual. Pada aspek penyajian budaya, harmonisasi diwujudkan melalui integrasi koleksi, narasi kuratorial, media interpretatif, dan pengalaman pengunjung sehingga membentuk penyampaian makna budaya yang utuh. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Angsukayana Batik Mangkunegaran 2023 merepresentasikan harmonisasi tradisi dan modernisasi dengan menempatkan tradisi sebagai living heritage yang terus berkembang melalui reinterpretasi desain dan penyajian budaya kontemporer tanpa melepaskan identitas budaya Batik Mangkunegaran. Temuan ini menunjukkan bahwa harmonisasi tradisi dan modernisasi dapat menjadi salah satu pendekatan pelestarian budaya yang relevan dalam konteks masyarakat kontemporer.