Batik sebagai warisan budaya takbenda Indonesia menghadapi tantangan berupa
menurunnya pemahaman masyarakat terhadap nilai filosofis dan identitas budaya
yang terkandung di dalamnya. Dalam konteks budaya kontemporer, pelestarian
batik tidak lagi cukup dilakukan melalui pelindungan artefak, tetapi juga
memerlukan pendekatan yang mampu menghadirkan kembali nilai-nilai budaya
agar tetap relevan bagi masyarakat. Salah satu upaya tersebut dilakukan melalui
program Angsukayana Batik Mangkunegaran 2023 yang diselenggarakan oleh Pura
Mangkunegaran. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi nilai-nilai tradisi dan
bentuk modernisasi yang dihadirkan dalam Angsukayana Batik Mangkunegaran
2023 serta menganalisis representasi harmonisasi tradisi dan modernisasi yang
diwujudkan melalui program tersebut.
Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data
dikumpulkan melalui studi dokumentasi, observasi visual terhadap koleksi batik
dan penyelenggaraan program, serta wawancara semi-terstruktur dengan pihak Pura
Mangkunegaran, Museum Tekstil Jakarta, Iwan Tirta Private Collection,
akademisi, dan perajin batik. Analisis dilakukan melalui reduksi data, kategorisasi
berdasarkan konsep tradisi, modernisasi, dan harmonisasi, kemudian
diinterpretasikan menggunakan triangulasi sumber dan metode.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai tradisi dalam Angsukayana
direpresentasikan melalui koleksi batik klasik Mangkunegaran, karakter visual, dan
nilai filosofis motif batik. Sementara itu, modernisasi diwujudkan melalui
reinterpretasi motif batik, strategi penyajian budaya yang memadukan tata pamer
kontemporer, media interpretatif, dan pagelaran busana, serta penyelenggaraan
pengalaman budaya yang mengintegrasikan pendekatan culture knowledge dan
culture experience. Harmonisasi antara tradisi dan modernisasi direpresentasikan
melalui keterpaduan aspek visual dan aspek penyajian budaya. Pada aspek visual,
harmonisasi tercermin melalui prinsip kesatuan, keseimbangan, dan penekanan
yang mempertahankan identitas visual Batik Mangkunegaran sekaligus
menghadirkan pengembangan desain yang kontekstual. Pada aspek penyajian
budaya, harmonisasi diwujudkan melalui integrasi koleksi, narasi kuratorial, media
interpretatif, dan pengalaman pengunjung sehingga membentuk penyampaian
makna budaya yang utuh.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa Angsukayana Batik Mangkunegaran 2023
merepresentasikan harmonisasi tradisi dan modernisasi dengan menempatkan
tradisi sebagai living heritage yang terus berkembang melalui reinterpretasi desain
dan penyajian budaya kontemporer tanpa melepaskan identitas budaya Batik
Mangkunegaran. Temuan ini menunjukkan bahwa harmonisasi tradisi dan
modernisasi dapat menjadi salah satu pendekatan pelestarian budaya yang relevan
dalam konteks masyarakat kontemporer.
Perpustakaan Digital ITB