digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Kota Bandung memiliki risiko hidrometeorologi yang tinggi akibat kondisi geomorfologi dan litologi yang kurang mendukung kapasitas infiltrasi, diperburuk oleh tutupan lahan terbangun yang luas.Kombinasi faktor ini menyebabkan ketidakseimbangan neraca air, dengan volume limpasan permukaan yang besar dan kapasitas infiltrasi tanah yang rendah. Akibatnya, genangan air muncul secara persisten di sejumlah wilayah. Penelitian ini bertujuan untuk mendelineasi sebaran lokasi genangan air secara spasio-temporal serta memetakan tingkat kerawanan banjir dengan mengintegrasikan aspek geospasial dan kontrol geologi. Data yang digunakan berupa data sekunder yang terdiri dari DEMNAS, Sentinel 2 Level 2A, curah hujan rata-rata tahunan Kota Bandung selama periode 2011 - 2025, dan data lokasi kejadian banjir historis dari literatur dalam 5 tahun terakhir sejak tahun 2021. Data-data ini dianalisis secara spasial dan deskriptif geologis. Metode yang digunakan mencakup MNDWI dari citra satelit Sentinel 2 yang diakuisisi pada periode 2017–2025 dan metode tumpang susun berbobot. Enam parameter utama dianalisis dengan pembobotan: penggunaan lahan sebesar 30%, kemiringan lereng 20%, curah hujan 15%, elevasi 15%, kerapatan drainase 15%, dan jenis tanah 5%. Melalui pendekatan ini, diharapkan identifikasi area rawan banjir dapat dilakukan dengan akurasi tinggi dan pemahaman kebumian yang baik untuk mendukung penanganan dan mitigasi bencana banjir yang berkelanjutan di Kota Bandung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa genangan air di Kota Bandung bersifat persisten dengan luas berkisar antara 3,15 hingga 8,59 hektar, terkonsentrasi di wilayah selatan dan timur. Sebanyak 85% zona kerawanan tinggi teridentifikasi di Bandung Selatan, yang secara geologi dikontrol oleh Formasi Kosambi dengan litologi berupa lempung endapan danau purba yang bersifat kedap air. Kondisi ini, dikombinasikan dengan morfologi cekungan antar gunung (intermontane basin) yang berfungsi sebagai topographic sink dengan elevasi kurang dari 675 meter di atas permukaan laut dan kemiringan lereng kurang dari 2%, menghambat infiltrasi air vertikal dan memicu akumulasi limpasan permukaan yang menetap. Berdasarkan tingginya skor pada parameter fisik dan kerugian banjir, koordinat prioritas penanganan banjir adalah (-6,929045, 107,675942) di Jl.Cingised untuk wilayah Timur dan (-6,940313, 107,590254) di Jl.Citarip untuk wilayah Selatan Kota Bandung.