Abstrak - Nafilatus Saidah
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
Medinilla speciosa merupakan spesies flora lokal di hutan pegunungan Jawa, khususnya di Gunung Muria, memiliki nilai etnobotani tinggi dan dimanfaatkan masyarakat lokal sebagai bahan baku produk olahan pangan. Pemanfaatan tumbuhan ini secara berkelanjutan sangat bergantung pada ketersediaannya di alam, yang ditentukan oleh keberhasilan siklus hidupnya. Namun, informasi mengenai fenologi dan dinamika reproduksinya di habitat alami masih terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengukur durasi fenologi dari kuncup hingga buah matang, mengidentifikasi spesies polinator dan frekuensi kunjungan, serta menganalisis aktivitas polinasi pada M. speciosa di kawasan Gunung Muria, Jawa Tengah. Penelitian dilakukan pada Januari hingga April 2026 menggunakan metode observasi fenologi secara kontinu setiap minggu, observasi aktivitas polinator menggunakan transek garis 100 meter, dan eksperimen perlakuan polinasi open-pollination (terbuka) dan close-pollination (tertutup). Hasil menunjukkan bahwa siklus fenologi M. speciosa dari fase kuncup hingga buah matang berlangsung selama 21 minggu, dengan durasi fase kuncup (3 minggu), anthesis (5 minggu), buah muda (3 minggu), buah mengkal (8 minggu), dan buah matang (2 minggu). Sepuluh spesies serangga pengunjung teridentifikasi, dengan kelompok polinator didominasi oleh famili Apidae (Xylocopa sp., Trigona sp., Amegilla sp., Apis dorsata, dan Apis sp.). Xylocopa sp. merupakan polinator paling dominan dengan frekuensi kunjungan tertinggi (75 kunjungan). Laju kunjungan puncak untuk seluruh polinator sebesar 6,67 kunjungan/jam pada pukul 11.00-12.00 WIB, yang bertepatan dengan suhu optimal 23,83 °C. Perbandingan perlakuan polinasi menunjukkan bahwa open-pollination menghasilkan fruit set (98,7 ± 0,65%) dan massa biji (0,555 ± 0,024 g) yang secara signifikan lebih tinggi dibandingkan close-pollination (fruit set, 91,7 ± 3,09% dan massa biji, 0,483 ± 0,024 g). Sebaliknya, jumlah biji pada close-pollination lebih banyak (267 ± 3,70 butir) dibandingkan
dengan open-pollination (253 ± 3,58 butir), namun memiliki massa lebih ringan yang mengindikasikan adanya efek inbreeding depression. Hasil penelitian menunjukkan peran krusial polinator dalam meningkatkan kualitas genetik (fitness) M. speciosa melalui mekanisme penyerbukan silang (cross-pollination). Implikasi penelitian ini mendukung strategi konservasi habitat polinator dan manajemen panen berbasis fase fenologi untuk optimalisasi pemanfaatan ekonomi berkelanjutan oleh masyarakat lokal di lereng Gunung Muria.
Perpustakaan Digital ITB