digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Figur Hawa (Eve) dalam tradisi Kristen Barat selama berabad-abad dikonstruksi sebagai penyebab Kejatuhan Manusia (The Fall), sehingga melahirkan stigma yang mengaitkan perempuan dengan dosa, kelemahan moral, dan ketidakrasionalan. Penafsiran tersebut berkembang melalui struktur patriarki dan turut memengaruhi representasi perempuan dalam budaya maupun seni. Penelitian ini berupaya mereinterpretasi figur Hawa melalui perspektif ekofeminisme sebagai simbol kesadaran, keberanian, dan rekonsiliasi antara perempuan dan alam. Penelitian ini bertujuan untuk mereinterpretasi figur Hawa dari simbol kejatuhan menjadi simbol rekonsiliasi melalui pendekatan ekofeminisme, serta mengimplementasikan nilai-nilai rekonsiliasi antara perempuan, alam, dan spiritualitas ke dalam karya kriya tekstil kontemporer. Selain itu, penelitian ini juga mengeksplorasi penerapan teknik fabric embellishing sebagai media ekspresi visual dan material dalam perancangan sekat ruang, sehingga mampu memperkuat penyampaian makna simbolik melalui perpaduan ilustrasi, tekstur, dan material. Metode yang digunakan adalah Practice-Based Research (PBR) dengan pendekatan kualitatif artistik. Proses penelitian dilakukan melalui studi literatur, analisis karya seni yang relevan, wawancara dengan narasumber ahli di bidang kajian gender untuk memperkuat landasan konseptual, serta eksplorasi material dan proses penciptaan karya sebagai media utama dalam pertanyaan penelitian. Hasil kajian tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam ilustrasi naratif yang diwujudkan melalui teknik digital textile printing sebagai visual dasar, kemudian diperkaya menggunakan bordir mesin manual, appliqué, embellishment, dan puff paint untuk membangun tekstur, dimensi, serta pengalaman visual yang mendukung makna simbolik karya. Kebaruan penelitian ini terletak pada reinterpretasi figur Hawa melalui perspektif ekofeminisme yang diwujudkan dalam medium kriya tekstil fungsional, serta pada penerjemahan konsep rekonsiliasi ke dalam sistem narasi visual lima panel dan eksplorasi material fabric embellishing sebagai bahasa simbolik dalam karya sekat ruang kontemporer