Air gambut menjadi sumber air baku yang penting bagi masyarakat di daerah lahan
gambut Indonesia. Namun, air gambut sulit diolah dengan metode konvensional
karena kandungan senyawa organik alaminya yang tinggi, terutama asam humat
dan asam fulvat, memiliki pH rendah, dan warna yang pekat. Teknologi nanofiltrasi
(NF) terendam menjadi alternatif pengolahan tingkat lanjut yang potensial, tetapi
teknologi ini rentan terhadap penyumbatan yang menurunkan produktivitas dan
umur pakai membran. Sponge cleaning berpotensi menjadi metode pembersihan
fisik yang lebih hemat bahan kimia dan waktu dibandingkan pembersihan kimiawi
konvensional. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh jenis
membran nanofiltrasi terhadap efisiensi penyisihan senyawa organik air gambut
dan laju pembentukan fouling, serta mengevaluasi efisiensi sponge cleaning pada
pengolahan air gambut. Enam membran nanofiltrasi flat-sheet dari dua produk
komersial, yaitu NF270 (DuPont FilmTec) dan ESNA5 (Hydranautics), diuji pada
konfigurasi terendam menggunakan sampel air gambut artifisial yang
merepresentasikan air gambut asli dari Desa Sungai Gelam, Kabupaten Muaro
Jambi. Membran paling optimal ditentukan menggunakan metode Simple Additive
Weighting (SAW) dengan bobot kriteria permeabilitas, rejeksi, dan ?TMP secara
berturut-turut sebesar 40%, 40%, dan 20%. Membran terpilih kemudian diuji
dengan sampel air gambut asli dalam dua siklus filtrasi hingga mengalami
peningkatan TMP ~20% pada fluks konstan 1 L/m2.h, juga diterapkan juga metode
sponge cleaning satu kali usapan di akhir setiap siklus. Karakterisasi permukaan
membran dilakukan melalui pengukuran water contact angle (WCA) dan
pengamatan visual menggunakan USB portable microscope, sedangkan efisiensi
pembersihan dihitung berdasarkan resistensi hidrolik. Hasil penelitian
menunjukkan seluruh membran memiliki efisiensi penyisihan kekeruhan, warna,
zat organik (KMnO4), dan asam humat di atas 90%. Namun, parameter pH dan
warna permeat belum memenuhi baku mutu air minum PERMENKES No. 2/2023
sehingga masih dibutuhkan pengolahan lanjutan. Laju peningkatan TMP
antarmembran bervariasi pada rentang 7,89-26,82% dalam 24 jam operasi.
Berdasarkan skor SAW, membran NF270-31 dipilih sebagai membran paling
optimal. Pada pengujian dengan sampel air gambut asli, laju peningkatan TMP
mencapai 20,83-22,97% dalam 24 jam, yang mana 1,6 kali lebih cepat dibanding
operasi dengan sampel artifisial meskipun fluks operasi lebih rendah. Efisiensi
sponge cleaning yang diperoleh yaitu 20,16% pada siklus 1 dan 16,28% pada siklus
2, yang mana angka ini tergolong rendah dibandingkan hasil penelitian sejenis pada
air limbah domestik dan air waduk yang mencapai angka mendekati 100%.
Rendahnya efisiensi ini disebabkan oleh dominasi fouling ireversibel akibat
interaksi hidrofobik, ikatan hidrogen, dan gaya Van der Waals yang kuat antara
asam humat terprotonasi dengan lapisan aktif poliamida pada kondisi pH rendah air
gambut, serta adanya pore-adsorbed foulant dari asam humat berukuran kecil yang
tidak dapat dihilangkan secara fisik oleh spons. Meskipun demikian, sponge
cleaning tetap efektif mengangkat lapisan cake permukaan yang didukung dengan
pengamatan visual mikroskop dan pemulihan nilai WCA yang mendekati kondisi
awal. Dengan efisiensi yang rendah ini, sponge cleaning tidak dapat menggantikan
sepenuhnya pembersihan kimiawi berkala untuk operasi jangka panjang
pengolahan air gambut.
Perpustakaan Digital ITB