Abstrak - Verine
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
Keruntuhan progresif merupakan fenomena kegagalan struktur yang ditandai oleh penyebaran kerusakan lokal menjadi keruntuhan yang tidak proporsional terhadap penyebab awalnya. Dalam evaluasi keruntuhan progresif menggunakan Alternate Path Method (APM), respons struktur akibat kehilangan elemen penopang secara tiba-tiba merupakan fenomena dinamik yang melibatkan efek inersia, redistribusi gaya, plastisitas material serta perubahan geometri struktur. Untuk penyederhanaan analisis, pedoman dari General Services Administration (GSA) memberikan alternatif berupa pendekatan konsep Dynaminc Amplification Factor (DAF) sebagai faktor pengali pada analisis statik guna merepresentasikan respons dinamik. Namun, validitas penggunaan DAF konstan dalam merepresentasikan respons dinamik aktual masih menjadi perdebatan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kemampuan DAF dalam merepresentasikan respons dinamik aktual pada analisis keruntuhan progresif bangunan beton bertulang. Struktur yang ditinjau berupa portal beton bertulang dua dimensi yang dianalisis menggunakan skenario penghilangan kolom secara tiba-tiba pada lantai dasar. Evaluasi dilakukan melalui perbandingan hasil dengan analisis Linear Static (LS), Nonlinear Static (NLS), Linear Dynamic (LD), dan Nonlinear Dynamic (NLD). Parameter respons yang ditinjau meliputi simpangan maksimum, momen lentur, gaya aksial dan gaya geser. Analisis dilakukan menggunakan perangkat lunak SAP2000 dengan mempertimbangkan nonlinearitas material dan geometri, sedangkan karakteristik sendi plastis diperoleh melalui analisis penampang menggunakan perangkat lunak XTRACT.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama struktur masih berada dalam kondisi elastik setelah kehilangan kolom, respons dinamik maksimum yang diperoleh dari analisis dinamik hanya berkisar 1.55 kali respons statik. Nilai ini relatif konsisten pada seluruh variasi kasus yang masih mempertahankan perilaku linear, sehingga DAF sebesar 1.55 dinilai lebih representatif dibandingkan nilai 2 yang direkomendasikan oleh GSA untuk kasus bangunan beton bertulang 10 lantai dengan skenario penghilangan satu kolom pada lantai dasar. Namun, ketika struktur mulai mengalami nonlinearitas material maupun geometri, nilai DAF tidak lagi bersifat konstan dan menunjukkan variasi yang signifikan akibat pengaruh redistribusi plastis, efek P-Delta, large displacement, serta perkembangan catenary action. Pada kondisi tersebut, respons dinamik aktual tidak dapat direpresentasikan secara memadai oleh satu nilai faktor amplifikasi tunggal.
Berdasarkan hasil penelitian ini, penggunaan DAF konstan sebesar 2 cenderung konservatif untuk kondisi respons elastik, sedangkan pada kondisi nonlinear validitas pendekatan tersebut menjadi terbatas. Oleh karena itu, penggunaan analisis nonlinear dinamik tetap diperlukan untuk memperoleh representasi respons struktur yang lebih akurat terhadap keruntuhan progresif.
Perpustakaan Digital ITB