digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Sistem distribusi air dari Bendungan Ir. H. Djuanda menuju Bendung Curug, Bendung Walahar, hingga Saluran Tarum Utara merupakan infrastruktur strategis yang berperan dalam penyediaan air untuk sektor irigasi, domestik, dan industri di wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum. Sistem ini melayani lebih dari 230.000 ha daerah irigasi serta memasok air baku bagi kawasan industri dan kebutuhan domestik di Provinsi Jawa Barat. Keandalan sistem sangat bergantung pada kesesuaian antara debit rencana, debit operasional, dan debit aktual di lapangan. Namun, kompleksitas operasi jaringan, perubahan karakteristik aliran, serta keterbatasan sistem pemantauan menyebabkan terjadinya ketidaksesuaian debit (discharge imbalance, ?Q) yang berpotensi menurunkan akurasi neraca air, keandalan distribusi, dan tingkat pemenuhan kebutuhan air. Penelitian terdahulu umumnya mengevaluasi aspek hidrologi, hidraulik, atau distribusi air secara terpisah sehingga belum mampu menjelaskan penyebab ketidaksesuaian debit secara komprehensif. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan mengidentifikasi dan memvalidasi faktor-faktor penyebab ketidaksesuaian debit, mengembangkan pendekatan Integrated Discharge Evaluation yang mengintegrasikan analisis hidrologi, hidraulik, dan distribusi air, mengevaluasi pengaruh ketidaksesuaian debit terhadap kinerja distribusi air, serta menyusun skenario operasional untuk meningkatkan keandalan dan efisiensi distribusi air pada Sistem Jatiluhur. Penelitian menggunakan data operasional Bendungan Ir. H. Djuanda, Bendung Curug, Bendung Walahar, serta Saluran Tarum Barat (STB), Saluran Tarum Timur (STT), dan Saluran Tarum Utara (STU) selama periode 2021 hingga 2025. Validasi lapangan dilakukan melalui pengukuran debit menggunakan Acoustic Doppler Current Profiler (ADCP) pada 18 titik pengamatan. Analisis hidrologi dilakukan menggunakan metode F.J. Mock untuk mengestimasi kontribusi aliran sungai, sedangkan rekonstruksi hidraulik dilakukan menggunakan HEC-RAS dengan simulasi unsteady flow. Evaluasi distribusi air dan skenario operasional dilakukan menggunakan River Basin Simulation Model (RIBASIM). Selain itu, dilakukan analisis manfaat ekonomi pemanfaatan air pada sektor irigasi, domestik, dan industri berdasarkan hasil simulasi distribusi air. Hasil penelitian menunjukkan kehilangan debit sebesar 31,42 m³/s pada ruas Bendungan Ir. H. Djuanda hingga Bendung Curug dan sebesar 30,37 m³/s pada ruas Bendung Curug hingga Bendung Walahar. Ketidaksesuaian debit dipengaruhi oleh kombinasi faktor hidrologi, hidraulik, operasional, dan keterbatasan sistem pemantauan. Faktor dominan meliputi ketidakpastian debit pelepasan Bendungan Ir. H. Djuanda sebesar ±28,60 m³/s (±9%), deviasi debit Sungai Cikao sebesar ±2,82 m³/s (±27%), kontribusi aliran Sungai Cilangkap, Sungai Ciampel, dan Sungai Cibarukbuk, penurunan kapasitas efektif saluran akibat sedimentasi, pembuangan debit melalui PHTB, keberadaan gorong-gorong menuju Cipule, serta pengambilan air untuk irigasi nonteknis yang belum termonitor secara memadai. Faktor-faktor tersebut meningkatkan ketidakpastian neraca air dan menyebabkan deviasi antara debit hasil simulasi, data operasional, dan hasil pengukuran lapangan. Evaluasi distribusi air menunjukkan bahwa Saluran Tarum Utara memiliki tingkat keandalan terendah dengan rasio pemenuhan kebutuhan air sebesar 83,42 hingga 99,45% pada kondisi eksisting. Skenario Operasional 2 memberikan kinerja terbaik dengan meningkatkan rasio pemenuhan kebutuhan air menjadi 97,26 hingga 99,98% serta meningkatkan manfaat ekonomi pemanfaatan air dari Rp3,39 triliun menjadi Rp4,05 triliun atau sekitar 19,5% dibandingkan kondisi eksisting. Penelitian ini menghasilkan pendekatan Integrated Discharge Evaluation sebagai kerangka evaluasi terpadu yang mengintegrasikan validasi hidrometri lapangan, analisis hidrologi, rekonstruksi hidraulik, evaluasi distribusi air, dan analisis skenario operasional dalam satu pendekatan sistematis. Pendekatan ini mampu mengidentifikasi penyebab utama ketidaksesuaian debit, mengevaluasi dampaknya terhadap keandalan distribusi air, serta mendukung penyusunan strategi operasi yang lebih adaptif, efisien, dan berbasis data. Temuan penelitian ini memberikan kontribusi metodologis bagi pengembangan evaluasi sistem distribusi air skala besar sekaligus menyediakan rekomendasi praktis untuk meningkatkan akurasi neraca air, efektivitas sistem pemantauan, dan keandalan pengelolaan distribusi air pada Sistem Jatiluhur maupun sistem distribusi air sejenis di Indonesia.