digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Denny Zulkaidi
PUBLIC Open In Flipbook Yoninur Almira

BAB 1 Denny Zulkaidi
PUBLIC Open In Flipbook Yoninur Almira

BAB 2 Denny Zulkaidi
PUBLIC Open In Flipbook Yoninur Almira

BAB 3 Denny Zulkaidi
PUBLIC Open In Flipbook Yoninur Almira

BAB 4 Denny Zulkaidi
PUBLIC Open In Flipbook Yoninur Almira

BAB 5 Denny Zulkaidi
PUBLIC Open In Flipbook Yoninur Almira

BAB 6 Denny Zulkaidi
PUBLIC Open In Flipbook Yoninur Almira

PUSTAKA Denny Zulkaidi
PUBLIC Open In Flipbook Yoninur Almira

LAMPIRAN A
PUBLIC Open In Flipbook Yoninur Almira

LAMPIRAN B
PUBLIC Open In Flipbook Yoninur Almira

LAMPIRAN C
PUBLIC Open In Flipbook Yoninur Almira

LAMPIRAN D
PUBLIC Open In Flipbook Yoninur Almira

Fasilitas publik di perkotaan mempunyai peran penting dalam ilmu perencanaan ditinjau dari sejarah dan kebijakan kota, struktur ruang kota, nilai guna sosial dan nilai pasar. Kajian tentang fasilitas publik yang banyak dilakukan terkait dengan lokasi optimal, pelayanan dan kinerja, serta penyediaan dan pembiayaannya; tetapi belum banyak yang meneliti eksternalitasnya. Eksternalitas yang dipinjam dari ilmu ekonomi telah banyak digunakan dalam perencanaan terutama penggunaan“polluters pay principle“ untuk mengatasi dampak lingkungan dan ekonomi dari fasilitas privat (industri, komersil), tetapi belum banyak dimanfaatkan untuk mendeskripsikan, menganalisis dan manangani persoalan fasilitas publik. Fasilitas publik diharapkan memberikan eksternalitas positif dan tidak diharapkan menghasilkan eksternalitas negatif, tetapi pada kenyataannya banyak fasilitas ini yang menimbulkan eksternalitas negatif. Pihak penerima eksternalitas umumnya masih dapat menerima eksternalitas negatif sampai tingkat tertentu, sehingga pemerintah daerah belum menangani eksternalitas negatif tersebut berdasarkan prinsip pengendalian yang tepat. Fasilitas pendidikan sebagai salah satu fasilitas publik dengan karakter pelayanan yang khas juga mempunyai peran penting di wilayah perkotaan. Fasilitas pendidikan favorit dicurigai menyebabkan dampak negatif yang mempengaruhi kesejahteraan pihak ketiga yang tidak terkait dengan kegiatan pendidikan. Penelitian ini mengidentifikasi dan menstrukturkan eksternalitas spasial fasilitas pendidikan SD, SMP dan SMA favorit di Kota Bandung. Dengan menggunakan pardigma positivisme, multiple case studies dan metoda penelitian kualitatif dan kuantitatif, penelitian ini telah mengidentifikasi dampak ekonomi, lalu-lintas, sosial dan lingkungan berdasarkan observasi lapangan. Verifikasi dengan pengukuran di lapangan dan persepsi menunjukkan bahwa tidak seluruh dampak tersebut berpengaruh dan dapat diklasifikasikan sebagai eksternalitas. Sebagian dampak memang dikategorikan sebagai eksternalitas; tetapi sebagian lainnya berkembang sebagai efek pengganda dari fasilitas pendidikan, yaitu yang memanfaatkan peluang atau bereaksi terhadap persoalan yang muncul.ii Penelitian ini menunjukkan bahwa pihak ketiga yang menerima eksternalitas berbanding lurus dengan jenjang fasilitas pendidikan: makin tinggi jenjang fasilitas pendidikan, makin besar eksternalitas. Meskipun demikian, bukan jenjang fasilitas pendidikan yang menimbulkan besar-kecilnya intensitas eksternalitas, tetapi fungsi jaringan jalan dan fungsi kawasan. Fungsi jaringan jalan yang lebih tinggi menyebabkan eksternalitas fasilitas pendidikan terhadap pelayanan jalan menjadi relatif kecil, meskipun tingkat pelayan jalan sudah sangat buruk (F). Fungsi kawasan yang relatif mantap dengan peluang pengembangan terbatas juga membatasi munculnya eksternalitas dan efek pengganda dari fasiitas pendidikan. Dengan terbatasnya eksternalitas yang diidentifikasi, maka identifikasi eksternalitas spasial juga menjadi terbatas. Yang dapat dideskripsikan adalah perbedaan tingkat pelayanan jalan, dan munculnya kegiatan tambahan (accessory use) di sekitar fasilitas pendidikan SMA. Penelitian ini menunjukkan bahwa dampak fasilitas pendidikan tercampur antara eksternalitas dan efek pengganda. Pada kawasan komersil dan pertahanan – keamanan, eksternalitas fasilitas pendidikan dapat diidentifikasi tetapi kontribusinya relatif kecil dibandingkan pengaruh kegiatan lain di sekitarnya. Secara umum, penelitian ini memperkuat teori eksternalitas di wilayah perkotaan yang tidak mudah diidentifikasi dan tidak siap didenda. Eksternalitas fasilitas publik dengan peran sosial yang besar juga tidak tepat diselesaikan melalui pendekatan ekonomi, baik teorema Pigouvian maupun Coasian. Dasar penyelesaian eksternalitas lebih tepat melalui peraturan, tindakan langsung dan konvensi sosial. Penelitian ini memperkuat perlunya pemetaan lokasi penerima dampak secara induktif, membuktikan bahwa eksternalitas spasial dari fasiitas publik bersifat subyektif dan tidak linier, mengungkapkan bahwa fasilitas publik di kawasan yang bernilai tinggi tidak mendorong perubahan guna lahan, menunjukkan bahwa pendekatan moneter tidak tepat untuk internalisasi eksternalitas fasilitas publik, memperkuat perlunya penanganan eksternalitas negatif dari fasilitas publik dengan peraturan langsung, tindakan langsung atau konvensi sosial, dan memperkuat perlunya perencanaan advokatif, perencanaan komunikatif dan pembangunan konsensus untuk mengatasi eksternalitas negatif fasilitas publik.