Fasilitas publik di perkotaan mempunyai peran penting dalam ilmu perencanaan
ditinjau dari sejarah dan kebijakan kota, struktur ruang kota, nilai guna sosial dan
nilai pasar. Kajian tentang fasilitas publik yang banyak dilakukan terkait dengan
lokasi optimal, pelayanan dan kinerja, serta penyediaan dan pembiayaannya;
tetapi belum banyak yang meneliti eksternalitasnya. Eksternalitas yang dipinjam
dari ilmu ekonomi telah banyak digunakan dalam perencanaan terutama
penggunaan“polluters pay principle“ untuk mengatasi dampak lingkungan dan
ekonomi dari fasilitas privat (industri, komersil), tetapi belum banyak
dimanfaatkan untuk mendeskripsikan, menganalisis dan manangani persoalan
fasilitas publik. Fasilitas publik diharapkan memberikan eksternalitas positif dan
tidak diharapkan menghasilkan eksternalitas negatif, tetapi pada kenyataannya
banyak fasilitas ini yang menimbulkan eksternalitas negatif. Pihak penerima
eksternalitas umumnya masih dapat menerima eksternalitas negatif sampai tingkat
tertentu, sehingga pemerintah daerah belum menangani eksternalitas negatif
tersebut berdasarkan prinsip pengendalian yang tepat.
Fasilitas pendidikan sebagai salah satu fasilitas publik dengan karakter pelayanan
yang khas juga mempunyai peran penting di wilayah perkotaan. Fasilitas
pendidikan favorit dicurigai menyebabkan dampak negatif yang mempengaruhi
kesejahteraan pihak ketiga yang tidak terkait dengan kegiatan pendidikan.
Penelitian ini mengidentifikasi dan menstrukturkan eksternalitas spasial fasilitas
pendidikan SD, SMP dan SMA favorit di Kota Bandung. Dengan menggunakan
pardigma positivisme, multiple case studies dan metoda penelitian kualitatif dan
kuantitatif, penelitian ini telah mengidentifikasi dampak ekonomi, lalu-lintas,
sosial dan lingkungan berdasarkan observasi lapangan. Verifikasi dengan
pengukuran di lapangan dan persepsi menunjukkan bahwa tidak seluruh dampak
tersebut berpengaruh dan dapat diklasifikasikan sebagai eksternalitas. Sebagian
dampak memang dikategorikan sebagai eksternalitas; tetapi sebagian lainnya
berkembang sebagai efek pengganda dari fasilitas pendidikan, yaitu yang
memanfaatkan peluang atau bereaksi terhadap persoalan yang muncul.ii
Penelitian ini menunjukkan bahwa pihak ketiga yang menerima eksternalitas
berbanding lurus dengan jenjang fasilitas pendidikan: makin tinggi jenjang
fasilitas pendidikan, makin besar eksternalitas. Meskipun demikian, bukan
jenjang fasilitas pendidikan yang menimbulkan besar-kecilnya intensitas
eksternalitas, tetapi fungsi jaringan jalan dan fungsi kawasan. Fungsi jaringan
jalan yang lebih tinggi menyebabkan eksternalitas fasilitas pendidikan terhadap
pelayanan jalan menjadi relatif kecil, meskipun tingkat pelayan jalan sudah sangat
buruk (F). Fungsi kawasan yang relatif mantap dengan peluang pengembangan
terbatas juga membatasi munculnya eksternalitas dan efek pengganda dari fasiitas
pendidikan. Dengan terbatasnya eksternalitas yang diidentifikasi, maka
identifikasi eksternalitas spasial juga menjadi terbatas. Yang dapat dideskripsikan
adalah perbedaan tingkat pelayanan jalan, dan munculnya kegiatan tambahan
(accessory use) di sekitar fasilitas pendidikan SMA.
Penelitian ini menunjukkan bahwa dampak fasilitas pendidikan tercampur antara
eksternalitas dan efek pengganda. Pada kawasan komersil dan pertahanan –
keamanan, eksternalitas fasilitas pendidikan dapat diidentifikasi tetapi
kontribusinya relatif kecil dibandingkan pengaruh kegiatan lain di sekitarnya.
Secara umum, penelitian ini memperkuat teori eksternalitas di wilayah perkotaan
yang tidak mudah diidentifikasi dan tidak siap didenda. Eksternalitas fasilitas
publik dengan peran sosial yang besar juga tidak tepat diselesaikan melalui
pendekatan ekonomi, baik teorema Pigouvian maupun Coasian. Dasar
penyelesaian eksternalitas lebih tepat melalui peraturan, tindakan langsung dan
konvensi sosial.
Penelitian ini memperkuat perlunya pemetaan lokasi penerima dampak secara
induktif, membuktikan bahwa eksternalitas spasial dari fasiitas publik bersifat
subyektif dan tidak linier, mengungkapkan bahwa fasilitas publik di kawasan
yang bernilai tinggi tidak mendorong perubahan guna lahan, menunjukkan bahwa
pendekatan moneter tidak tepat untuk internalisasi eksternalitas fasilitas publik,
memperkuat perlunya penanganan eksternalitas negatif dari fasilitas publik
dengan peraturan langsung, tindakan langsung atau konvensi sosial, dan
memperkuat perlunya perencanaan advokatif, perencanaan komunikatif dan
pembangunan konsensus untuk mengatasi eksternalitas negatif fasilitas publik.
Perpustakaan Digital ITB