Di era modern, digitalisasi melahirkan berbagai ekspresi visual baru seperti gaya
Cyberpunk yang marak menginspirasi tren techwear dan helmetwear. Fenomena
global ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi seni tradisi untuk tetap relevan.
Penelitian ini bertujuan menjembatani jurang antara tradisi dan teknologi melalui
eksplorasi desain artwear helmetwear bergaya Cyberpunk yang mengadaptasi
kekayaan filosofis ragam hias Minangkabau berbasis 3D printing. Melalui metode
riset visual, pemodelan digital, dan eksperimen material, proses kreatif ini
menganalisis karakteristik estetika brand seperti Machine56, Kremlin Clothing,
dan Fabric of the Universe untuk disandingkan dengan motif tradisional seperti
pucuak rabuang, itik pulang patang, dan kaluak paku. Hasil eksplorasi
menunjukkan bahwa karakter dinamis Cyberpunk yang menekankan repetisi,
asimetri, dan kontras material dapat berpadu harmonis dengan makna simbolik
motif Minangkabau melalui sistem modular serta rekayasa tekstur permukaan.
Penerapan teknologi 3D printing terbukti berhasil mewujudkan visualisasi baru
yang presisi tanpa menghilangkan esensi nilai adatnya. Kebaruan penelitian ini
terletak pada peleburan unik antara subkultur futuristik dan warisan Nusantara,
sekaligus memperluas batasan kriya kontemporer di Indonesia sebagai ruang
pertemuan yang adaptif antara nilai tradisi dan teknologi modern.
Perpustakaan Digital ITB