digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

2026 BALQIS KHANIA PAMUNGKAS ABSTRAK
Terbatas Dwi Ary Fuziastuti
» ITB

Konektivitas antarwilayah dan tingginya biaya logistik merupakan tantangan utama yang mendistorsi efisiensi pasar domestik di Indonesia. Analisis arus perdagangan umumnya menggunakan model gravitasi standar dengan asumsi independensi antardaerah terobservasi. Model tersebut gagal mengakomodasi efek interaksi geografis sehingga berpotensi menghasilkan estimasi yang bias. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan menganalisis elastisitas perdagangan domestik dan internasional terhadap biaya logistik dengan mengintegrasikan efek ketergantungan spasial melalui pendekatan Spatial Autoregressive (SAR) Gravity. Model diestimasi melalui metode Maximum Likelihood Estimation (MLE) menggunakan data Tabel Inter-Regional Input-Output (IRIO) Tahun 2016. Tabel ini memberikan informasi arus perdagangan 34 provinsi di Indonesia serta tiga negara mitra utama, yaitu Amerika Serikat, China, dan Jepang. Hasil uji Moran’s I mengonfirmasi adanya dependensi spasial yang signifikan berupa efek limpahan komplementer pada wilayah tujuan. Berdasarkan estimasi sektoral, sektor manufaktur memiliki sensitivitas paling elastis terhadap perubahan biaya transportasi, disusul oleh sektor pertanian, sedangkan sektor pertambangan bersifat inelastis. Selain itu, teridentifikasi fragmentasi ekstrem pada pasar domestik akibat tingginya kecenderungan memprioritaskan perdagangan internal (home bias) serta perdagangan dengan wilayah yang berbatasan langsung (adjacency effect). Pada tingkat agregat, model membuktikan bahwa elastisitas perdagangan nasional (ˆ?N = 1,266) jauh lebih responsif terhadap perubahan biaya logistik dibandingkan dengan elastisitas perdagangan asing (ˆ?F = 0,660). Dekomposisi efek tetap turut mengungkap ketimpangan struktural antarwilayah; pusat produksi terpusat di Pulau Jawa, sementara wilayah Timur seperti Papua mengalami defisit aliran satu arah karena ketergantungan pasokan yang tinggi. Temuan ini memberikan implikasi perlunya kebijakan penurunan biaya logistik yang berfokus pada integrasi rantai pasok industri serta pemerataan kapasitas produksi lokal di Indonesia Timur.