COVER Vina Rizki Maulida
Terbatas Alifah Yusriyah Salsabila
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Alifah Yusriyah Salsabila
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 1 Vina Rizki Maulida
Terbatas Alifah Yusriyah Salsabila
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Alifah Yusriyah Salsabila
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 2 Vina Rizki Maulida
Terbatas Alifah Yusriyah Salsabila
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Alifah Yusriyah Salsabila
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 3 Vina Rizki Maulida
Terbatas Alifah Yusriyah Salsabila
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Alifah Yusriyah Salsabila
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 4 Vina Rizki Maulida
Terbatas Alifah Yusriyah Salsabila
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Alifah Yusriyah Salsabila
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 5 Vina Rizki Maulida
Terbatas Alifah Yusriyah Salsabila
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Alifah Yusriyah Salsabila
» Gedung UPT Perpustakaan
PUSTAKA Vina Rizki Maulida
Terbatas Alifah Yusriyah Salsabila
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Alifah Yusriyah Salsabila
» Gedung UPT Perpustakaan
LAMPIRAN Vina Rizki Maulida
Terbatas Alifah Yusriyah Salsabila
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Alifah Yusriyah Salsabila
» Gedung UPT Perpustakaan
Penggunaan pupuk sintetis secara berlebihan pada budidaya sayuran berisiko memicu
pengasaman dan degradasi kualitas tanah, sehingga diperlukan pendekatan budidaya yang
lebih berkelanjutan, salah satunya melalui pemanfaatan mulsa organik. Penelitian ini
bertujuan mengkuantifikasi dinamika nitrogen (N) pada tajuk, akar, tanah, dan gulma,
menyusun neraca massa N, serta menganalisis struktur komunitas gulma pada budidaya
selada hijau (Lactuca sativa) dengan dan tanpa aplikasi mulsa limbah baglog jamur tiram.
Penelitian dilaksanakan di Lahan Pendidikan SITH ITB Kampus Jatinangor dengan dua
perlakuan (Mulsa dan Non Mulsa) dan empat ulangan bedengan. Sampel tajuk, akar,
tanah, dan gulma dianalisis menggunakan metode Total Kjeldahl Nitrogen (TKN),
sedangkan komunitas gulma diamati menggunakan metode kuadrat. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa kadar N tajuk pada kedua perlakuan mengikuti pola dilusi nitrogen
dan meningkat kembali pada akhir siklus, dengan serapan N selada yang relatif setara
(±0,33 g N/tanaman). Perlakuan Mulsa mempertahankan kadar N tanah yang lebih tinggi
(0,24–0,31% dibandingkan dengan 0,20–0,28%) serta kelembapan tanah yang lebih tinggi
(76,5% dibandingkan dengan 58,3%). Komunitas gulma teridentifikasi sebanyak 33
spesies (kesamaan komposisi Sørensen 0,842), dengan densitas total yang lebih rendah
pada perlakuan Mulsa (55,5 individu/m²) dibandingkan Non Mulsa (81,8 individu/m²).
Pada Non Mulsa, Alternanthera sessilis mendominasi secara konsisten pada HST 7–28
(Nilai Penting 87–96) sebelum digantikan Cyperus rotundus pada akhir siklus, sedangkan
pada Mulsa dominansi kedua spesies berfluktuasi tanpa satu spesies mendominasi secara
konsisten, menghasilkan keanekaragaman yang lebih tinggi (H? = 2,03 dibandingkan
dengan 1,45) serta serapan N gulma yang lebih kecil (3,10 dibandingkan dengan 4,08 g
N), sehingga mengindikasikan kompetisi nitrogen yang lebih rendah terhadap selada.
Neraca massa N menunjukkan kehilangan nitrogen tidak teridentifikasi yang lebih rendah
pada perlakuan Mulsa (15,98%) dibandingkan dengan Non Mulsa (27,64%). Secara
keseluruhan, aplikasi mulsa limbah baglog jamur tiram berpotensi menurunkan kompetisi
gulma dan membentuk komunitas gulma yang lebih beragam pada budidaya selada,
meskipun belum tentu meningkatkan efisiensi penggunaan nitrogen oleh tanaman dalam
satu siklus budidaya.
Perpustakaan Digital ITB