digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Vina Rizki Maulida
PUBLIC Open In Flipbook Alifah Yusriyah Salsabila

COVER Vina Rizki Maulida
Terbatas  Alifah Yusriyah Salsabila
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 1 Vina Rizki Maulida
Terbatas  Alifah Yusriyah Salsabila
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 2 Vina Rizki Maulida
Terbatas  Alifah Yusriyah Salsabila
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 3 Vina Rizki Maulida
Terbatas  Alifah Yusriyah Salsabila
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 4 Vina Rizki Maulida
Terbatas  Alifah Yusriyah Salsabila
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 5 Vina Rizki Maulida
Terbatas  Alifah Yusriyah Salsabila
» Gedung UPT Perpustakaan

PUSTAKA Vina Rizki Maulida
Terbatas  Alifah Yusriyah Salsabila
» Gedung UPT Perpustakaan

LAMPIRAN Vina Rizki Maulida
Terbatas  Alifah Yusriyah Salsabila
» Gedung UPT Perpustakaan

Penggunaan pupuk sintetis secara berlebihan pada budidaya sayuran berisiko memicu pengasaman dan degradasi kualitas tanah, sehingga diperlukan pendekatan budidaya yang lebih berkelanjutan, salah satunya melalui pemanfaatan mulsa organik. Penelitian ini bertujuan mengkuantifikasi dinamika nitrogen (N) pada tajuk, akar, tanah, dan gulma, menyusun neraca massa N, serta menganalisis struktur komunitas gulma pada budidaya selada hijau (Lactuca sativa) dengan dan tanpa aplikasi mulsa limbah baglog jamur tiram. Penelitian dilaksanakan di Lahan Pendidikan SITH ITB Kampus Jatinangor dengan dua perlakuan (Mulsa dan Non Mulsa) dan empat ulangan bedengan. Sampel tajuk, akar, tanah, dan gulma dianalisis menggunakan metode Total Kjeldahl Nitrogen (TKN), sedangkan komunitas gulma diamati menggunakan metode kuadrat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar N tajuk pada kedua perlakuan mengikuti pola dilusi nitrogen dan meningkat kembali pada akhir siklus, dengan serapan N selada yang relatif setara (±0,33 g N/tanaman). Perlakuan Mulsa mempertahankan kadar N tanah yang lebih tinggi (0,24–0,31% dibandingkan dengan 0,20–0,28%) serta kelembapan tanah yang lebih tinggi (76,5% dibandingkan dengan 58,3%). Komunitas gulma teridentifikasi sebanyak 33 spesies (kesamaan komposisi Sørensen 0,842), dengan densitas total yang lebih rendah pada perlakuan Mulsa (55,5 individu/m²) dibandingkan Non Mulsa (81,8 individu/m²). Pada Non Mulsa, Alternanthera sessilis mendominasi secara konsisten pada HST 7–28 (Nilai Penting 87–96) sebelum digantikan Cyperus rotundus pada akhir siklus, sedangkan pada Mulsa dominansi kedua spesies berfluktuasi tanpa satu spesies mendominasi secara konsisten, menghasilkan keanekaragaman yang lebih tinggi (H? = 2,03 dibandingkan dengan 1,45) serta serapan N gulma yang lebih kecil (3,10 dibandingkan dengan 4,08 g N), sehingga mengindikasikan kompetisi nitrogen yang lebih rendah terhadap selada. Neraca massa N menunjukkan kehilangan nitrogen tidak teridentifikasi yang lebih rendah pada perlakuan Mulsa (15,98%) dibandingkan dengan Non Mulsa (27,64%). Secara keseluruhan, aplikasi mulsa limbah baglog jamur tiram berpotensi menurunkan kompetisi gulma dan membentuk komunitas gulma yang lebih beragam pada budidaya selada, meskipun belum tentu meningkatkan efisiensi penggunaan nitrogen oleh tanaman dalam satu siklus budidaya.