Penyusunan peta geologi di wilayah daratan Indonesia telah dilaksanakan sejak awal abad
ke-19. Dimulai oleh penjelajahan yang dilakukan Junghuhn (1809-1864), kegiatan
pemetaan geologi pada awalnya lebih mengarah pada penyelidikan geologi untuk
mendukung eksplorasi. Perkembangan selanjutnya kegiatan ini tidak saja untuk
mendukung penyediaan sumber daya mineral dan energi, akan tetapi telah berkembang
sebagai pendukung sektor pembangunan lainnya.
Kemajuan dalam teknologi komputerisasi menuntut adanya perubahan bentuk visualisasi
dari peta geologi konvensional yang bersifat dua dimensi menjadi sebuah peta geologi
yang bersifat tiga dimensi. Bentuk tiga dimensi ini dapat dilakukan dengan proses
digitalisasi.
Digitalisasi peta geologi menghasikan peta geologi tiga dimensi yang akan
menggambarkan bentuk dari lapisan-lapisan batuan dari berbagai sudut pandang yang
pada peta geologi konvensional penggambarannya bentuk dari lapisan-lapisan batuan
hanya dapat terlihat melalui bentuk penampangnya saja yang tergantung dari potongan
atau sayatan yang diperlihatkan oleh pemeta.
Hasil akhir dari peta geologi digital ini bila diolah lebih lanjut selain dapat diketahui
bentukan penampang juga dapat dilakukan perhitungan volume pada tiap lapisan dengan
metode penampang, metode grid dan metode komposit
Perpustakaan Digital ITB