Keputusan intervensi negara pada BUMN yang mengalami kondisi distress
memerlukan proses pengambilan keputusan yang terstruktur dan terstandar.
BUMN memiliki mandat ganda yaitu menjaga keberlanjutan finansial sekaligus
mengemban amanat negara/kepentingan publik. Oleh karena itu, penilaian kredit
biasa tidak memadai untuk menilai proposal intervensi BUMN. Meskipun analisa
mendalam atas proposal intervensi telah ada, belum adanya framework standar
berpotensi mengakibatkan inkonsistensi dalam proses assessment. Akibatnya,
Keputusan berisiko lebih didorong oleh kondisi genting, financial pressure atau
pertimbangan strategis yang kurang dilengkapi langkah pengaman yang memadai.
Tesis ini menggunakan pendekatan kualitatif dan design oriented untuk
mengembangkan Lean Enterprise Intervention Decision Framework (LEIDF) dan
menerapkannya pada kasus PT Krakatau Steel (Persero) Tbk sebagai ilustrasi kasus
ex-post.
LEIDF dikembangkan melalui studi literatur, sintesa konsep dan
konsultasi dengan DAM Danantara. Landasan teori meliputi bounded rationality,
stage-gate decision logic, Financial versus economic viability, execution
feasibility, moral hazard, risiko fiskal, SOE governance dan juga kepentingan
umum/negara. Konsultasi dengan Danantara digunakan untuk memahami praktek
assessment intervensi, ketersediaan data, tata kelola dan pelaksanaan LEIDF secara
praktis.
Tesis ini mengusulkan LEIDF sebagai framework pengambilan Keputusan berbasis
stage-gate, berurutan, berbasis pertanyaan, dan berdasarkan pada bukti. LEIDF
terdiri dari 4 gate yaitu Post-Intervention Economic Viability, Execution
Feasibility, Intervention Risk Control dan Public Value/State Interest Justification.
Ilustrasi penerapan pada kasus PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. menunjukkan
bahwa LEIDF dapat mengorganisasi assessment atas proposal intervensi secara
terstruktur dan operasional, dengan hasil rekomendasi keputusan adalah
Conditional Recovery (Penyehatan)
Perpustakaan Digital ITB