Lembar Pengesahan
Terbatas karya
» ITB
Terbatas karya
» ITB
BAB I
Terbatas karya
» ITB
Terbatas karya
» ITB
BAB II
Terbatas karya
» ITB
Terbatas karya
» ITB
BAB III
Terbatas karya
» ITB
Terbatas karya
» ITB
BAB IV
Terbatas karya
» ITB
Terbatas karya
» ITB
BAB V
Terbatas karya
» ITB
Terbatas karya
» ITB
Daftar Pustaka & Lampiran
Terbatas karya
» ITB
Terbatas karya
» ITB
Terdapat berbagai jenis angkutan umum di Indonesia salah satunya adalah Angkot
(Angkutan Kota) yang menjadi fokus dalam penelitian ini. Data angkot yang
dipakai pada penelitian ini menggunakan data yang telah dikumpulkan dari aplikasi
SEMUT dan GPS Tracker yang dipasang pada setiap angkot. Data sensor global
positioning system (GPS) ini dapat digunakan untuk memudahkan dalam
memonitor segala aktivitas dan perilaku angkot. Pada penelitian kali ini
membangun model yang dapat mendeteksi perilaku anomali pada angkot. Anomali
didefinisikan sebagai suatu kejadian atau keadaan perilaku yang menyimpang.
Model tersebut dibangun agar dapat memberi informasi ketika terjadi perilaku
anomali. Sebelum melakukan analisis pada data, data SEMUT melewati proses
data cleaning terlebih dahulu seperti parsing, correction and standardization,
enchacement, macthing, dan consolidating. Selanjutnya dilakukan praproses yaitu
seleksi atribut, Exploratory Data Analysis (EDA), menentukan data training dan
data testing. Setelah melakukan tahap EDA maka aktivitas dan perilaku angkot
dapat diamati dan dapat mendefinisikan perilaku anomali pada angkot. Selanjutnya
dilakukan pemisahan data angkot yang memiliki perilaku normal untuk
pembangunan model deteksi perilaku anomali angkot dengan metode Autoencoder
Long Short Term Memory (LSTM). Model Autoencoder Long Short Term Memory
(LSTM) ini digunakan untuk melatih data normal tanpa label. Hasil dari evaluasi
model tersebut memiliki nilai loss MAE yang nilainya semakin kecil selama
pelatihan. Nilai loss MAE akhir pada pelatihan mendapat 0.0099. Adapun output
dari hasil deteksi perilaku anomali angkot menggunakan Autoencoder Long Short
Term Memory adalah label data. Data uji akan otomatis diberi label true atau false.
Label true diberikan jika nilai loss MAE pada data uji lebih besar dari nilai threshold
(0.1) maka dapat disimpulkan terdapat perilaku anomali angkot, sedangkan false
diberikan ketika loss MAE pada data uji kurang dari nilai threshold 0.1 maka dapat
disimpulkan angkot memiliki perilaku normal. Pengujian dilakukan dengan
melakukan pengecekan dan membandingkan hasil keluaran dari model dengan hasil
pengecekan secara manual, model Autoencoder Long Short Term Memory
mendapat akurasi 89.6% . Selanjutnya dibangun model tipe perilaku anomali
angkot dengan menggunakan metode Iterative Dichotomiser Three (ID3). Adapun ii
tipe perilaku anomali angkot yang dilakukan angkot terdiri dari angkot keluar dari
jalur trayek (Off Track), mengetem (Waiting) dan ngebut (Speeding). Pada proses
pelatihan ini dilakukan eksperimen dengan melakukan normalisasi pada data dan
tanpa normalisasi pada data. Teknik evaluasi training dan testing yang digunakan
adalah 10-fold cross validation. Untuk mengetahui perbedaan kinerja model ID3
dengan normalisasi dan model ID3 tanpa normalisasi digunakan Uji T-Test.
Berdasarkan pengujian tersebut, karena nilai sig ? ? yaitu sig. (p-value) 0.001 <0.05
maka H0 ditolak dan menerima H1 (ada perbedaan signifikan). Maka dapat
disimpulkan terdapat perbedaan siginifikan kinerja model ID3 dengan
menggunakan normalisasi dan model ID3 tanpa menggunakan normalisasi. Dimana
untuk model ID3 dengan normalisasi mendapat akurasi, precision, recall dan fmeasure lebih tinggi dari model ID3 tanpa normalisasi. Model ID3 dengan
normalisasi mendapat akurasi 98% dan akurasi model ID3 tanpa normalisasi
mendapat akurasi 95%. Selanjutnya dilakukan pengujian dengan data baru yang
tidak terpakai dan membandingkan keluaran model dengan hasil eksplorasi data
berdasarkan waktu. Hasil pengecekan dan pengujian memiliki akurasi 91.2%.
Keseluruhan hasil eksperimen EDA dan model ditampilkan dalam bentuk web
dashboard.
Perpustakaan Digital ITB