Sesar Lembang merupakan salah satu ancaman gempa terbesar di Jawa Barat yang berpotensi
menghasilkan gempa magnitudo 6,6–7,0 dan mempengaruhi hingga 2,7 juta penduduk
Bandung Raya (BMKG, 2024). Kerentanan masyarakat di wilayah rural sekitar Lembang
semakin tinggi akibat kombinasi topografi lereng curam, tanah lunak, bangunan
non-engineered, serta keterbatasan akses logistik yang dapat menghambat distribusi bantuan
pada periode kritis 72 jam pertama pascabencana. Meskipun sosialisasi kebencanaan telah
dilakukan secara rutin, kesiapsiagaan masyarakat masih rendah karena emergency kit tidak
terawat, latihan evakuasi jarang dilakukan, dan sarana mitigasi belum terintegrasi dengan
aktivitas sehari-hari maupun ruang komunal warga. Penelitian ini menggunakan pendekatan
local co-design dengan Kampung Bukatanah dan Kampung Sukamulya sebagai lokasi studi.
Kedua kampung dipilih karena memiliki karakter masyarakat agraris dengan budaya gotong
royong dan titik interaksi komunal yang masih kuat, seperti warung kopi, masjid, dan teras
rumah, namun belum dimanfaatkan sebagai bagian dari sistem mitigasi bencana. Berdasarkan
kondisi tersebut, penelitian menghasilkan desain SAJAGAT (Sarana Jaga Gempa
Darurat), yaitu fasilitas mitigasi dan quick response komunal yang mengintegrasikan
dispenser emergency kit dengan sistem early warning system. Mengadopsi filosofi
kebersamaan masyarakat Jawa Barat, SAJAGAT dirancang tidak hanya untuk meningkatkan
akses terhadap kebutuhan darurat, tetapi juga untuk membangun sense of ownership dan
kesiapsiagaan kolektif masyarakat di kawasan zona merah Sesar Lembang.
Perpustakaan Digital ITB