digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Athifah Zahrah [27124020]
PUBLIC Open In Flipbook Noor Pujiati.,S.Sos

Fenomena neurodiversitas mendorong perlunya pendekatan desain interior yang mampu mengakomodasi keragaman kebutuhan kognitif dan sensorik pengguna, termasuk anak dengan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) tipe hiperaktif. Anak ADHD tipe hiperaktif cenderung mengalami kesulitan dalam mengatur perhatian, impulsivitas, dan aktivitas motorik sehingga memerlukan kesempatan untuk melakukan regulasi diri sebelum kembali mengikuti kegiatan belajar. Namun, ruang kelas konvensional umumnya dirancang untuk mempertahankan fokus belajar dan belum secara optimal memfasilitasi kebutuhan istirahat mental yang memungkinkan anak melakukan regulasi melalui aktivitas yang terarah. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya pengembangan ruang istirahat mental yang mampu mendukung proses regulasi anak secara lebih adaptif di lingkungan sekolah. Perkembangan teknologi imersif-interaktif menawarkan peluang untuk menciptakan lingkungan yang lebih responsif terhadap kebutuhan pengguna melalui integrasi elemen visual, sensorik, dan aktivitas interaktif. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi prinsip konfigurasi ruang dan elemen visual imersif-interaktif yang mendukung kebutuhan istirahat mental anak ADHD tipe hiperaktif usia 7–9 tahun di sekolah, menganalisis relevansi konsep ruang istirahat mental berbasis teknologi imersif-interaktif berdasarkan perspektif ahli, serta merumuskan rancangan desain ruang istirahat mental yang sesuai dengan kebutuhan pengguna. Penelitian menggunakan metode perancangan desain interior yang didukung oleh studi literatur, studi pendahuluan, pengembangan konsep desain, serta validasi ahli melalui kuesioner skala Likert dan wawancara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prinsip perancangan ruang istirahat mental bagi anak ADHD tipe hiperaktif meliputi penyediaan lingkungan yang aman, fleksibel, adaptif, dan mendukung regulasi sensori melalui pengaturan stimulus secara bertahap. Rancangan yang dihasilkan mengintegrasikan teknologi imersif interaktif, stimulus sensori yang beragam, aktivitas regulasi yang terstruktur, serta konfigurasi ruang yang disesuaikan dengan tahapan regulasi. Hasil validasi ahli menunjukkan tingkat persetujuan sebesar 85,42% dengan kategori sangat setuju, yang mengindikasikan bahwa desain dinilai sesuai dengan kebutuhan pengguna pada aspek tata ruang dan keamanan, stimulus visual, tahapan penggunaan ruang, serta interaksi dan aktivitas. Selain relevan bagi anak ADHD tipe hiperaktif, para ahli juga menilai bahwa prinsip-prinsip yang diterapkan dalam rancangan berpotensi memiliki relevansi yang lebih luas bagi pengguna neurodivergen lain yang memiliki kebutuhan regulasi serupa. Kebaruan penelitian terletak pada pengembangan konsep ruang istirahat mental berbasis teknologi imersif-interaktif yang secara khusus dirancang untuk mendukung proses regulasi anak ADHD di lingkungan sekolah melalui integrasi antara konfigurasi ruang, stimulus sensori, aktivitas regulasi, dan teknologi interaktif. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pengembangan desain interior inklusif dengan menawarkan model ruang yang dapat mendukung kesiapan belajar anak melalui pendekatan regulasi yang lebih adaptif dan terstruktur.