Infrastruktur publik dalam konteks perkotaan dapat menyebabkan desain
dipahami sebagai simbol politik. Penelitian ini menelaah respon netizen X
terhadap desain Perpustakaan Jakarta dalam menggeser makna desain ke arah
pencitraan politik. 2.404 tweets yang dipublikasikan antara Juli 2022 hingga
Februari 2024 dikumpulkan menggunakan Twitter API dan diproses
menggunakan Python. Analisis jarinan dilakukan menggunakan Gephi unuk
memetakan pola interaksi dan mengidentifikasi akun-akun sentral. Analisis
sentimen dilakukan dengan mengombinasikan TextBlob dan klasifikator Naive
Bayes, dengan hasil yang divalidasi melalui triangulasi oleh tiga peneliti.
Selanjutnya, data dianalisis menggunakan Atlas.ti untuk mengidentifikasi arah
diskusi. Proses ini membantuk topik-topik terkait dengan aspek desain,
fungsionalitas, keterlibatan politik, dan kritik proses pembangunan. Temuan
penelitian menunjukkan bahwa evaluasi netizen terhadap Perpustakaan Jakarta
lebih banyak dibentuk oleh representasi visual dibanding aspek fungsionalitas.
Aspek desain sering beririsan dengan kritik terhadap figur politik. Interaksi
netizen juga menunjukkan tingkat polarisasi yang tinggi. Hal ini diperkuat oleh
keberadaan echo chamber dan respons emosional, terutama dalam percakapan
yang dipicu oleh aktor politik. Unsur-unsur budaya lokal jarang muncul dalam
diskursus digital, sehingga menunjukkan terbatasnya pengakuan publik terhadap
intensi kultural desain. Penelitian ini menemukan bahwa desain Perpustakaan
Jakarta mengalami politisasi tidak hanya melalui promosi top-down, tetapi juga
melalui interaksi bottom-up yang menjadikan ruang ini sebagai simbol politik
yang diperdebatkan. Dinamika ini menunjukkan terjadinya pergeseran spatial
affordance menjadi political affordance melalui proses interpretasi yang
dimediasi secara digital. Temuan ini menegaskan pentingnya penerapan desain
partisipatif dan komunikasi yang transparan untuk mencegah terjadinya symbolic
drift serta memastikan bahwa fasilitas publik benar-benar melayani kebutuhan
masyarakat, bukan semata sebagai sarana pencitraan politik.
Perpustakaan Digital ITB