Untuk mendukung pengembangan model konseptual Lapangan Panas Bumi Agni,
struktur bawah permukaan memegang peranan penting dalam memahami
mekanisme dari sistem panas bumi. Pada awal 2024 (Februari – Maret), jaringan
seismik temporer yang terdiri dari 18 stasiun seismik short-period ditempatkan di
sekitar Lapangan Panas Bumi Agni selama ~36 hari, dengan jarak antar pasangan
stasiun mencapai ~5 km. Studi ini bertujuan untuk mendeliniasi struktur bawah
permukaan dari Lapangan Panas Bumi Agni berdasarkan model kecepatan
gelombang geser (????????).
Pada studi ini, Empirical Green’s Function (EGF) diperoleh melalui proses
koherensi silang rekaman seismik komponen vertikal dari setiap pasangan stasiun.
Kurva dispersi dari gelombang Rayleigh kemudian diekstraksi dari setiap EGF
menggunakan Continuous Wavelet Transform (CWT). Model ???????? di Lapangan Panas
Bumi Agni diperoleh melalui inversi kurva dispersi pada rentang periode 0.1 – 2.0
s. Secara umum, model ???????? menunjukkan anomali kecepatan rendah pada kedalaman
dangkal, yang mengindikasikan batuan penudung dari sistem panas bumi.
Sedangkan, pada kedalaman lebih dalam, kecepatan cenderung mengalami
peningkatan. Namun, di bagian tenggara, anomali kecepatan rendah tetap teramati
hingga kedalaman yang lebih dalam, yang mengindikasikan keberadaan reservoar
yang permeabel. Berdasarkan kontras anomali kecepatan, reservoar ini tampak
dibatasi oleh struktur patahan dominan. Selain itu, anomali kecepatan tinggi di
timur laut Kawah C mengindikasikan keberadaan intrusi magmatik. Dengan
demikian, model ???????? yang dihasilkan dari studi ambient noise tomography mampu
menggambarkan elemen utama dari sistem panas bumi, termasuk batuan penudung,
intrusi, struktur patahan, dan reservoar.
Perpustakaan Digital ITB