digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Endapan laut di wilayah tropis merupakan arsip penting untuk mengkaji dinamika sistem laut jangka panjang, khususnya di perairan Nias yang berada pada zona interaksi aktif sistem monsun dan variabilitas Indian Ocean Dipole (IOD). Interpretasi perubahan lingkungan laut memerlukan kendali umur relatif yang memadai agar variasi paleoekologi dan paleoseanografi dapat ditempatkan dalam kerangka waktu geologi yang tepat. Dalam konteks ini, biostratigrafi berperan sebagai dasar utama untuk mengaitkan perubahan ekologis dan oseanografi dengan tahapan waktu sejak Pleistosen Akhir hingga Holosen. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan biostratigrafi melalui biozona nanofosil serta mengkaji perubahan paleoekologi dan paleoseanografi berdasarkan asosiasi nanofosil pada inti sedimen laut BS-22 dari perairan Nias. Analisis dilakukan pada satu inti sedimen sepanjang 195 cm yang diambil dari kedalaman 653,2 m. Pengamatan nanofosil dilakukan pada interval 10 cm menggunakan mikroskop polarisasi perbesaran 1000×, sedangkan penentuan umur relatif didasarkan pada biodatum nanofosil. Hasil analisis biostratigrafi menunjukkan dua biozona, yaitu NN21 (Holosen) pada kedalaman 179–0 cm dan NN20 dan/atau lebih tua (Pleistosen Akhir dan/atau lebih tua) pada kedalaman 180–195 cm, yang dibatasi oleh kemunculan awal Emiliania huxleyi sebagai penanda batas umur Holosen. Hasil analisis menunjukkan komunitas nanofosil didominasi oleh taksa oportunistik dan kosmopolitan, terutama Gephyrocapsa kecil, dengan keanekaragaman relatif rendah. Perubahan komposisi spesies dan kelimpahan mencerminkan keterkaitan erat antara dinamika paleoekologi dan perubahan kondisi oseanografi, dari kondisi laut yang lebih dingin dan dinamis pada akhir Pleistosen menuju lingkungan Holosen yang lebih hangat, terstratifikasi, dan oligotrof. Perubahan litologi lempung–lanau karbonatan tidak menunjukkan pengaruh signifikan terhadap variasi paleoekologi maupun paleoseanografi. Rekaman sedimen BS-22 mencerminkan lima periode utama perubahan paleoklimat, yaitu Akhir Younger Dryas, Early Holocene Warm Period, Holocene Climate Optimum, Mid-Holocene Aridification, dan Late Holocene Transition.