Kerangka kerja Net Environmental Benefit Analysis (NEBA) yang ada saat ini dikembangkan terutama dalam konteks tumpahan minyak di lingkungan laut dan pesisir. Risk-Based Screening Level (RBSL) dapat menetapkan target tingkat intervensi spesifik untuk lokasi terkontaminasi pada kawasan non-permukiman sebagai alternatif dari baku mutu umum. Net Environmental Benefit Analysis (NEBA) menilai keseluruhan manfaat lingkungan dari remediasi relatif terhadap kondisi dasar. Dalam studi ini, NEBA menggunakan matriks dampak mitigasi tumpahan minyak yang dikombinasikan dengan Analytic Hierarchy Process (AHP), serta target tingkat remediasi yang spesifik untuk lokasi pada lahan yang terkontaminasi TPH di kawasan konservasi. Tujuh opsi remediasi dievaluasi pada enam sub-lokasi dan empat tipe ekosistem. Comparative Risk Assessment (CRA) diterapkan secara independen sebagai kerangka penilaian risiko remediasi terestrial untuk lahan konservasi yang terkontaminasi minyak. Nilai SSTL minimum sebesar 16.700 mg/kg (1,67%) ditetapkan sebagai ambang batas remediasi universal di seluruh sub-lokasi studi. Bobot AHP yang diturunkan dari 10 responden untuk dampak lingkungan (0,2234), efektivitas (0,1845), risiko residual (0,1807), biaya (0,1461), durasi (0,1430), dan ekonomi sosial-budaya (0,1224) diterapkan pada matriks mitigasi dampak tumpahan untuk skoring NEBA, dengan Consistency Ratio konsolidasi sebesar 0,034. Enhanced Natural Attenuation (ENA) secara umum menghasilkan skor NEBA-AHP tertinggi. Gajah menanggung risiko paparan kimia kumulatif pada opsi remediasi pasif, namun sekaligus menanggung biaya gangguan ekologis terbesar pada opsi remediasi aktif berbasis penggalian. Enhanced Natural Attenuation secara konsisten menghasilkan risiko tertinggi. Analisis korelasi peringkat Spearman terhadap 147 pasangan skor NEBA dan CRA menghasilkan koefisien ? = ?0,319 (nilai p = 0.000082 (p<0,001)), yang mengindikasikan hubungan negatif yang signifikan secara statistik namun berkekuatan sedang.
Perpustakaan Digital ITB