BAB I Triyadi Guntur Wiratmo [37020013]
Terbatas Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB II Triyadi Guntur Wiratmo [37020013]
Terbatas Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB III Triyadi Guntur Wiratmo [37020013]
Terbatas Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB IV Triyadi Guntur Wiratmo [37020013]
Terbatas Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB V Triyadi Guntur Wiratmo [37020013]
Terbatas Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB IV Triyadi Guntur Wiratmo [37020013]
Terbatas Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan
Daftar Pustaka Triyadi Guntur Wiratmo [37020013]
Terbatas Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan
Lampiran Triyadi Guntur Wiratmo [37020013]
Terbatas Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan
Penulisan sejarah (historiografi) perjuangan di Indonesia, khususnya peristiwa
Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta, tidak pernah berdiri di ruang hampa.
Peristiwa tersebut secara historis senantiasa ditarik ke dalam pusaran kontestasi
ideologi, hegemoni, dan kepentingan politik penguasa yang direproduksi secara
dinamis melalui berbagai media budaya populer, salah satunya adalah komik.
Penelitian disertasi ini bertujuan untuk membongkar, menguraikan, dan memetakan
pergeseran artikulasi diskursif mengenai peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949
dalam tiga komik yang diproduksi dan diedarkan pada tiga era politik yang berbeda
di Indonesia: Kisah Pendudukan Jogja (1952) karya Abdulsalam (representasi Era
Pasca-Revolusi Fisik/Demokrasi Liberal), Merebut Kota Perjuangan (1985) karya
Marsoedi dkk. dan Wid.N.S (representasi Puncak Hegemoni Rezim Orde Baru),
dan Komando Rajawali (2015) karya Edna Caroline dan Thomdean (representasi
Era Transisi Demokrasi/Reformasi ). Sebagai sebuah kajian kritis terhadap teks
visual dan kesejarahan, penelitian kualitatif ini mengandalkan pendekatan teoretis
hibrida yang memadukan dua pisau analisis utama secara tandem. Pertama,
pendekatan Multimodal Critical Discourse Analysis (MCDA) model David Machin
dan Andrea Mayr digunakan untuk membedah secara mikro tanda-tanda semiotik
visual dan tekstual di dalam panel komik. Instrumen Machin dan Mayr seperti
pilihan kosakata (lexical choices), penonjolan visual (visual prominence), sudut
bidik kamera (camera angles), tatapan mata karakter (gaze), penataan latar
belakang (setting), ikonografi, serta tingkatan modalitas warna diaplikasikan untuk
melihat bagaimana kekuasaan dikonstruksi secara visual. Kedua, metode ini
ditandemkan secara integral dengan Discourse-Historical Approach (DHA) dari
Ruth Wodak. Pendekatan DHA digunakan untuk memahami dengan mengaitkan
teks-teks komik tersebut ke dalam konteks sosiopolitik dan makro-historis yang
melatarbelakangi masa produksinya, sekaligus membongkar teks melalui lima
strategi diskursif Wodak, yakni strategi nominasi (nomination), predikasi
(predication), argumentasi (argumentation), perspektivisasi (perspectivization),
serta intensifikasi dan mitigasi (intensification and mitigation). Hasil penelitian
membuktikan secara empiris dan teoretis adanya perubahan dan pergeseran wacana
yang radikal dari proses legitimasi menuju delegitimasi antargenerasi melalui
komik tersebut. Pada generasi pertama, komik Kisah Pendudukan Jogja (1952)
mengartikulasikan Legitimasi Kolektif Berbasis Rakyat karena diproduksi saat
memori revolusi masih segar dan belum terkooptasi oleh kepentingan dinasti politik
tertentu. Berdasarkan strategi nominasi dan predikasi DHA, komik ini menonjolkan
agensi kelompok marginal (subaltern) seperti peran rakyat, pemuda lokal, dan
wong cilik sebagai penggerak utama perjuangan, sementara elite militer diletakkan
secara setara dalam struktur sosial perlawanan. Pada generasi kedua, terjadi
pergeseran ekstrem di mana komik Merebut Kota Perjuangan (1985) mereproduksi
Legitimasi Monolitik Rezim Orde Baru. Ditandai oleh sensor negara yang ketat,
komik ini memanfaatkan instrumen visual prominence dan ikonografi militeristik
untuk menempatkan figur Letkol Soeharto sebagai penggagas tunggal serangan.
Secara diskursif (DHA), komik ini menjalankan strategi eksklusi dan mitigasi yang
secara sengaja menghilangkan atau mengecilkan peran tokoh kunci lain seperti Sri
Sultan Hamengkubuwono IX dan Kolonel Bambang Sugeng, demi melegitimasi
posisi politik Soeharto sebagai presiden yang berkuasa pada tahun 1985. Pada
generasi ketiga, atmosfer keterbukaan pasca Reformasi melahirkan komik
Komando Rajawali #05 The Final Battle (2015) yang mengartikulasikan
Delegitimasi Mitos Orde Baru sekaligus Relegitimasi Sejarah Kolektif. Komik ini
mendekonstruksi romantisasi perang versi Orde Baru. Melalui strategi
perspektivisasi dan intertekstual DHA, sentralitas Soeharto didelegitimasi dengan
cara menurunkannya menjadi pelaksana taktis lapangan konvensional yang
direduksi perannya sebagai penggagas utama serangan. Sebaliknya, komik ini
melakukan relegitimasi dengan mengangkat kembali otoritas formal dari Kolonel
Bambang Sugeng sebagai Panglima Divisi III melalui personalisasi sosoknya
dalam panel komik. Secara teoritis, disertasi ini menyimpulkan bahwa historiografi
populer berbentuk komik di Indonesia bukan sekadar artefak budaya yang pasif,
media hiburan anak-anak, atau dokumentasi statis masa lalu. Komik sejarah
beroperasi secara aktif sebagai instrumen ideologis dan ruang kontestasi diskursif
visual tempat memori kolektif bangsa terus-menerus diproduksi, direproduksi,
dipertahankan, atau diruntuhkan sejalan dengan pergeseran dinamika kekuasaan
politik yang sedang dominan. Kebaruan dari penelitian ini terletak pada integrasi
metodologis lintas disiplin antara semiotika multimodal dan analisis sejarah-
diskursif yang berhasil membongkar bagaimana kuasa politik mampu
memengaruhi penggambaran sosok karakter, tata letak panel, hingga pilihan kata
dalam merekayasa ingatan masa lalu sebuah bangsa.
Perpustakaan Digital ITB