digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Abstrak_Ceccy Noveliana Suherlim
Terbatas  Perpustakaan Prodi Arsitektur
» Gedung UPT Perpustakaan

Penyakit autoimun merupakan kelompok penyakit kronis yang terjadi ketika sistem imun menyerang jaringan tubuh sendiri. Diperkirakan terdapat 80 hingga 150 jenis penyakit autoimun, termasuk systemic lupus erythematosus (SLE), juvenile idiopathic arthritis, dan rheumatoid arthritis, yang seba gian besar bersifat melemahkan, harus dikelola seumur hidup, dan belum memiliki terapi kuratif. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan peningkatan prevalensi penyakit autoimun sebesar 40% yang menyerang kelompok usia produktif maupun lanjut usia. Fenomena ini menciptakan tantangan medis dan sosial dikarenakan pasien sering menghadapi beban psikologis, skeptisisme publik, dan keterbatasan dukungan non-medis. Sebagai rumah sakit rujukan utama di Jawa Barat, Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Hasan Sadikin (RSHS) Bandung menyediakan layanan subspesialis dengan kuota terbatas, termasuk untuk kasus autoimun. Keterbatasan ini membuat banyak pasien dari luar pusat kota harus datang jauh lebih awal untuk mendapatkan nomor antrean. Di sisi lain, tidak terdapat akomodasi khusus yang dapat meringankan pasien. Situasi ini menegaskan bahwa pemulihan tidak hanya bergantung pada intervensi medis, tetapi juga pada lingkungan pendukung yang terintegrasi. Untuk itu, arsitektur diposisikan sebagai immune system eksternal, sebuah pendekatan holistik yang memandang ruang tidak hanya sebagai wadah fisik, melainkan sebagai mekanisme yang melindungi tubuh, mendukung proses pemulihan, serta memperkuat inklusivitas sosial. Sejalan dengan pendekatan tersebut, riset dalam bidang architectural neuroimmunology menunjukkan bahwa desain biophilic, seperti penggunaan cahaya alami, material, vegetasi, dan kualitas akustik dapat menurunkan aktivitas neuroinflammation atau indikator stres fisik pasien. Hal ini mendasari perumusan proyek sebagai sebuah healing environment yang menghubungkan pasien, masyarakat, dan lingkungan melalui integrasi fungsi rumah singgah dan fasilitas pemulihan privat sebagai recovery spaces; serta ruang eksibisi interaktif dan plaza makanan sehat (healthy food hub) sebagai sarana edukasi publik, promosi gaya hidup sehat, dan interaksi sosial. Berlokasi strategis di lingkungan RSHS Bandung, rancangan ini menjadi perpanjangan tangan layanan medis sekaligus wadah edukasi dan advokasi publik mengenai penyakit autoimun. Metode perancangan dimulai dengan studi literatur tentang arsitektur kesehatan dan healing environment, observasi lapangan untuk memahami kebutuhan aktual pasien, serta analisis preseden global untuk mengidentifikasi aspek arsitektur terbaik yang mendukung. Proyek ini menghasilkan rancangan arsitektur yang berperan sebagai mekanisme perlindungan sekaligus penguatan resiliensi. Lebih dari sekadar fasilitas, rancangan ini menjadi medium edukasi dan advokasi sosial yang membangun lingkungan inklusif bagi penderita autoimun, sejalan dengan tujuan SDGs 3 (Good Health and Well-Being), 10 (Reduced Inequalities), dan 11 (Sustainable Cities and Communities).