digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Putri Hasya N
PUBLIC Open In Flipbook Esha Mustika Dewi

Stunting merupakan kondisi malnutrisi kronis yang memicu disbiosis mikrobiota usus. Strategi intervensi stunting dapat dilakukan melalui pemberian probiotik serta prebiotik, yaitu senyawa yang berperan meningkatkan produksi probiotik dalam menghasilkan metabolit, seperti asam lemak rantai pendek (SCFA). Penelitian ini memanfaatkan bubuk ubi ungu, bubuk kedelai, dan sari kurma sebagai alternatif bahan pangan fungsional yang melimpah secara lokal serta kaya akan sumber prebiotik. Isolat probiotik Gram-negatif asal feses anak dari penelitian sebelumnya diproduksi menggunakan media minimal M9 yang memungkinkan suplementasi terkontrol dari tiap bahan pangan, dengan penambahan pepton sebagai sumber nitrogen organik untuk penggunaan langsung asam amino tanpa konsumsi energi berlebih. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) membandingkan pengaruh penambahan bahan pangan (bubuk ubi ungu, sari kurma, dan bubuk kedelai) terhadap pola pertumbuhan isolat PRO3., (2) menentukan bahan pangan terbaik antara bubuk ubi ungu, sari kurma, dan bubuk kedelai untuk isolat PRO3, (3) menentukan konsentrasi bahan pangan terpilih terbaik untuk meningkatkan jumlah biomassa isolat PRO3. Pola pertumbuhan isolat PRO3 diamati melalui kurva pertumbuhan menggunakan media M9 termodifikasi dengan variasi bahan pangan (bubuk ubi ungu 11,5 g/L, sari kurma 11,5 g/L, dan bubuk kedelai 66,7 g/L) dan pepton sebagai sumber nitrogen. Kultur diinkubasi selama 24 jam di suhu ruang tanpa agitasi dengan 10% (v/v) inokulum aktivasi sebesar 106 CFU/mL. Setelah didapatkan bahan pangan terbaik, isolat PRO3 diamati pertumbuhannya dalam media M9 termodifikasi dengan variasi konsentrasi bahan pangan terpilih: 0,5? dan 2? dari konsentrasi awal (%w/v) selama 15 jam di suhu ruang tanpa agitasi dengan 10% (v/v) inokulum aktivasi sebesar 106 CFU/mL. Pengambilan sampel dan pengukuran nilai pH media dilakukan setiap 3 jam untuk dianalisis secara kuantitatif. Analisis dilakukan menggunakan metode Total Plate Count (TPC) untuk menentukan kepadatan sel (CFU/mL), laju pertumbuhan (jam-1), serta doubling time (menit) bakteri. Hasil kurva pertumbuhan ketiga variasi bahan pangan menunjukkan bahwa isolat PRO3 tidak mengalami fase lag. Bubuk kedelai menghasilkan laju pertumbuhan (?) tertinggi (1,63 jam-1) dan doubling time tersingkat (25,6 menit), diikuti oleh sari kurma (1,08 jam-1; 38,7 menit) dan bubuk ubi ungu (0,95 jam-1; 43,8 menit). Selanjutnya, bubuk kedelai dipilih untuk uji variasi konsentrasi karena efisiensinya dalam mencapai kelimpahan puncaknya (3?108 CFU/mL) dengan fase akhir logaritmik dalam waktu tersingkat (0?12 jam) dibandingkan sari kurma (0?18 jam) dan bubuk ubi ungu (0?21 jam) dengan kepadatan sel yang sama (108 CFU/mL). Pertumbuhan populasi sel sejalan dengan peningkatan keasaman media, ditandai dengan penurunan nilai pH secara konstan. Hasil penambahan variasi konsentrasi menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi bubuk kedelai tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap laju pertumbuhan isolat PRO3. Namun, variasi konsentrasi bubuk kedelai 13,3% (w/v) memberikan kepadatan sel tertinggi (1,56?109 CFU/mL) pada akhir fase logaritmik. Hasil penelitian ini dapat dioptimasi lebih lanjut sebagai dasar pengembangan sinbiotik dengan memanfaatkan bahan pangan sebagai sumber prebiotik untuk mendukung pencegahan stunting pada anak.