Jalur kolong perawatan kereta api merupakan elemen fasilitas depo yang harus
mampu menahan beban gandar, beban dinamis, dan pengaruh seismik dengan tetap
memenuhi batas kemampuan layan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi respons
struktur jalur kolong serta menentukan konfigurasi profil balok-kolom yang efisien
melalui analisis elemen hingga. Model dikembangkan menggunakan variasi profil
balok IWF dan Rel R54 R370CrHT, kolom H-Beam, serta variasi bentang.
Verifikasi dilakukan melalui uji konvergensi mesh, pemeriksaan kesetimbangan
gaya, analisis modal, analisis statik, dan analisis transien akibat moving load serta
akselerogram sintetik wilayah Padang sebagai representasi wilayah operasional
kereta api dengan intensitas spektrum respons gempa tertinggi untuk batas desain
yang konservatif. Evaluasi keamanan dilakukan menggunakan pendekatan ASD
dan LRFD, sedangkan prediksi bentang maksimum dilakukan melalui regresi
polinomial. Hasil interpretasi data menunjukkan bentang maksimum yang aman
untuk masing-masing kombinasi balok-kolom adalah 1,282 m untuk balok IWF
200x150x6x9 dengan kolom H-Beam 250x250x9x14 (dibatasi oleh momen LTB);
1,138 m untuk balok IWF 300x150x6.5x9 dengan kolom H-Beam 300x300x10x15
(dibatasi oleh momen LTB); 3,084 m untuk balok IWF 250x250x9x14 dengan
kolom H-Beam 350x350x12x19 (dibatasi oleh gaya geser balok); serta 2,400 m
untuk balok Rel R54 R370CrHT dengan kolom H-Beam 350x350x12x19 (dibatasi
oleh deformasi vertikal). Sementara itu, kombinasi balok IWF 200x150x6x9
dengan kolom H-Beam 200x200x8x12 dieliminasi karena tidak memenuhi prinsip
Strong Column Weak Beam (SCWB) dengan rasio 0,855. Konfigurasi yang paling
optimum dan efisien secara bobot untuk kebutuhan panjang jalur 50 meter diperoleh
pada kombinasi balok Rel R54 R370CrHT dengan kolom H-Beam 350x350x12x19
pada bentang maksimum 2,40 m, karena menghasilkan berat total material paling
minimum sebesar 4.227 kg serta mampu menghemat bobot hingga 43,6%
dibandingkan opsi IWF 250x250x9x14.
Perpustakaan Digital ITB