Jumlah emisi CO? global dari sektor energi terus meningkat setiap tahun. Gas alam
dan batubara masih menjadi kontributor terbesar terhadap emisi karbon, sehingga
keduanya menjadi sorotan utama dalam upaya mitigasi perubahan iklim. Tren
kenaikan emisi ini telah terbukti menjadi salah satu faktor utama pemicu perubahan
iklim di berbagai negara, dengan dampak yang meluas terhadap lingkungan,
kesehatan, dan perekonomian. Oleh karena itu, langkah yang harus ditempuh adalah
mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan beralih ke sumber energi
yang lebih ramah lingkungan. Hidrogen muncul sebagai salah satu opsi strategis
karena sifatnya yang bebas karbon, sehingga dapat menjadi solusi transisi energi
untuk mendukung pencapaian target Net Zero Emissions. Implementasi co-firing
hidrogen dengan gas alam pada PLTGU tidak hanya mendukung program transisi
energi di Indonesia, tetapi juga menjadi bagian penting dari upaya global menuju
sistem energi yang berkelanjutan.
Dalam penelitian ini, simulasi termodinamika terkait co-firing hidrogen dengan gas
alam dilakukan menggunakan perangkat lunak Aspen Hysys. Model yang
digunakan merepresentasikan PLTGU Cilegon dengan konfigurasi 1-on-1,
berkapasitas total sekitar 370 MW, dan berbasis turbin Mitsubishi M701F. Variasi
rasio hidrogen dalam campuran bahan bakar ditetapkan antara 0% hingga 30% basis
volume, dengan mempertimbangkan keterbatasan tipe combustor dry low NOx
(DLN) premixed. Temperatur keluaran combustor dijaga konstan pada 1.400 °C
untuk memastikan stabilitas operasi dan menjaga keandalan sistem. Selain analisis
teknis, dilakukan pula kajian tekno-ekonomi untuk menghitung total biaya
pemanfaatan hidrogen dengan asumsi sistem penyimpanan bertipe compressed gas.
Perhitungan biaya pokok produksi (BPP) digunakan sebagai dasar evaluasi
kelayakan penggunaan hidrogen dalam skema co-firing pada PLTGU.
Hasil analisis termodinamika menunjukkan bahwa ketika rasio hidrogen meningkat
hingga 30%, daya total PLTGU naik dari 378.632 MW menjadi 379.461 MW.
Perubahan total daya ini setara dengan peningkatan sekitar 0,22%. Efisiensi
pembangkit juga mengalami kenaikan dari 58,19% menjadi 58,32%, atau
meningkat sekitar 0,22%. Sementara itu, co-firing dengan hidrogen terbukti mampu
menurunkan laju emisi CO? dari 139.213 kg/jam menjadi 124.750 kg/jam, dengan
penurunan sekitar 10,39%. Temuan ini menegaskan bahwa hidrogen memiliki
potensi nyata untuk mendukung pengurangan emisi karbon sekaligus meningkatkan
efisiensi sistem pembangkit.
Dari sisi tekno-ekonomi, hasil analisis menunjukkan bahwa total biaya investasi
sistem penyimpanan hidrogen bertipe compressed gas mencapai USD 770 juta.
Nilai Levelized Cost of Hydrogen Storage (LCHS) diperkirakan sekitar 8,98
USD/kg, dengan proyeksi total biaya utilisasi pada tahun 2026 sebesar 15,47
USD/kg. Berdasarkan hasil perhitungan ini, biaya pokok produksi listrik (BPP)
mengalami kenaikan signifikan, yakni 3,61 kali lipat. Harga BPP naik dari Rp
1.042,99/kWh menjadi Rp 3.764,68/kWh. Analisis sensitivitas lebih lanjut
menunjukkan bahwa biaya Inside Battery Limits (ISBL) merupakan komponen
yang paling berpengaruh terhadap total biaya utilisasi hidrogen, karena
menyumbang porsi terbesar dari capital expenditure cost (CapEx) untuk peralatan
utama.
Penerapan co-firing hidrogen pada PLTGU memang memberikan keuntungan dari
sisi teknis berupa peningkatan efisiensi dan penurunan emisi, namun di sisi lain
menimbulkan tantangan ekonomi yang cukup besar. Kenaikan biaya pokok
produksi berpotensi memangkas keuntungan atau laba perusahaan, sehingga
diperlukan strategi kebijakan yang mendukung agar hidrogen menjadi lebih
kompetitif dibandingkan dengan gas alam maupun bahan bakar fosil lainnya. Salah
satu upaya yang dapat dilakukan adalah pemberian insentif ekonomi, seperti subsidi
harga hidrogen hijau, bantuan investasi untuk sistem penyimpanan hidrogen,
maupun skema kredit karbon. Dengan adanya dukungan kebijakan dan inovasi
teknologi, diharapkan penggunaan hidrogen di masa depan dapat menjadi lebih
ekonomis dan berkelanjutan.
Perpustakaan Digital ITB