Transportasi udara memiliki peran penting dalam mendukung konektivitas, aktivitas ekonomi, dan pembangunan wilayah di Indonesia sebagai negara kepulauan, namun meningkatnya kompleksitas jaringannya menimbulkan kekhawatiran terhadap ketahanan struktural serta konsekuensi ekonomi dari potensi gangguan. Penelitian ini bertujuan untuk memodelkan Jaringan Transportasi Udara domestik Indonesia, mengevaluasi ketahanannya terhadap gangguan, serta menilai eksposur ekonomi yang dihasilkan baik di tingkat nasional maupun regional. Jaringan dimodelkan sebagai graf berarah dan berbobot dari 133 bandara domestik menggunakan data penerbangan tahun 2018, dengan ketahanan dievaluasi melalui tiga metrik, yaitu Weighted Giant Component Size, Weighted Efficiency, dan Average Shortest Path Length, pada simulasi serangan acak berbasis Monte Carlo dan simulasi serangan tertarget yang mengacu pada empat ukuran sentralitas. Degradasi konektivitas tiap bandara yang dihasilkan kemudian dinormalisasi terhadap kontribusi PDB penerbangan domestik Indonesia untuk memperoleh National Exposure Share dan Regional Exposure Impact-nya. Hasil menunjukkan bahwa IATN memiliki topologi hub-and-spoke yang bersifat scale-free dengan sifat robust-yet-fragile, di mana ketahanan jaringan hanya menurun secara marginal akibat gangguan acak, namun menurun tajam akibat penghapusan tertarget pada bandara bersentralitas tinggi, dengan CGK teridentifikasi sebagai bandara paling kritis secara struktural, menyebabkan degradasi WGCS sebesar 49,17 persen saat dihapus secara individual. Dari sisi eksposur ekonomi, meskipun CGK memiliki porsi eksposur nasional terbesar sebesar 24,6 persen, bandara seperti JOG dan DPS menunjukkan Regional Exposure Impact tertinggi meskipun signifikansi nasionalnya kecil, mengindikasikan ketergantungan ekonomi regional yang tidak proporsional terhadap konektivitas udara. Temuan ini menegaskan perlunya pertimbangan multi-skala dalam perencanaan ketahanan penerbangan Indonesia.
Perpustakaan Digital ITB