Efisiensi operasional merupakan pilar penting bagi maskapai Low Cost Carrier (LCC) yang dapat dicapai melalui restrukturisasi jaringan rute. Menjawab kebutuhan tersebut, penelitian ini mengoptimalkan jaringan domestik Citilink tahun 2025 menggunakan teori jaringan kompleks, dengan memodelkan bandara sebagai node dan rute sebagai edge dengan frekuensi penerbangan sebagai bobotnya. Guna menjamin kelayakan implementasi, kapasitas slot bandara diintegrasikan sebagai batasan operasional dalam optimasi dua tahap. Tahap pertama mengimplementasikan Non-dominated Sorting Genetic Algorithm II (NSGA-II) untuk menyeleksi rute, yang kemudian dilanjutkan dengan Mixed Integer Linear Programming (MILP) untuk mengalokasikan frekuensi penerbangan. Hasil optimasi menunjukkan penyusutan rute aktif dari 172 menjadi 164 rute dan penurunan aktivitas dari 2.520 menjadi 2.091 penerbangan per minggu, dengan cakupan 47 bandara tetap utuh. Dari aspek keberlanjutan, konfigurasi ini memangkas konsumsi bahan bakar hingga 1.301 ton per minggu (67.682 ton/tahun) dan mereduksi emisi CO? sebesar 213.876 ton/tahun berdasarkan standar ICAO. Pendekatan terintegrasi ini terbukti menghasilkan arsitektur jaringan yang lebih ringkas, ekonomis, dan layak secara operasional.
Perpustakaan Digital ITB