DAS Cimanuk merupakan sistem hidrologis strategis di Jawa Barat yang
secara simultan menopang penyediaan air baku domestik PDAM, pengaliran
kawasan irigasi, dan kebutuhan air kawasan industri, serta PLTA Jatigede
berkapasitas 110 MW. Agenda RPJPD Jawa Barat 2025–2045 dan RPJMD
kabupaten menargetkan peningkatan indeks penanaman, ekspansi cakupan
pelayanan air minum, dan pengembangan Kawasan Industri Rebana secara
bersamaan. Hal berpotensi menimbulkan trade-off antar sektor yang signifikan
apabila setiap sektor direncanakan secara terpisah.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik ketersediaan pasokan dan
permintaan air tiap sektor, mengkuantifikasi trade-off lintas sektor, serta
mengevaluasi potensi defisit energi dan emisi gas rumah kaca di DAS Cimanuk
akibat perubahan hidrologis dan kebijakan alokasi hingga tahun 2045, yang sejalan
dengan upaya pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) pada sektor
ketahanan air, pangan, energi, dan aksi iklim.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis skema Water-Energy-
Food (WEF) Nexus melalui integrasi perangkat lunak model Water Evaluation and
Planning (WEAP) dengan Low Emissions Analysis Platform (LEAP). Perangkat
lunak WEAP akan mensimulasikan neraca air dan operasional waduk yang
berperan juga sebagai PLTA, kemudian LEAP akan menerima input berupa
ketersediaan energi PLTA yang dihasilkan dari WEAP sebagai dasar penentuan
jumlah energi PLTA maksimum yang tersedia pada setiap tahun penerapan
skenario, Simulasi dilakukan pada 481 titik permintaan, dengan periode setengah
bulanan, dari tahun dasar 2026 hingga tahun proyeksi 2045. Lima skenario
pengembangan wilayah dibuat menyerupai RPJPD Jawa Barat 2025-2045 dan
disimulasikan pada tiga kondisi hidrologi yaitu, normal, sangat kering, dan sangat
basah melalui fitur Water Year Method yang menggunakn fitur rasio debit
berdasarkan debit kondisi normal.Hasil menunjukkan kebutuhan air didominasi sektor irigasi sebesar 97,97%, dengan
tingkat pemenuhan (coverage) terendah yaitu 63,83% dan unmet demand 240,65
m3/s pada tahun dasar. Pada tahun 2045 kondisi sangat kering, ekspansi indeks
penanaman meningkatkan unmet demand irigasi sebesar 122,03% dan industri
33,53%, sedangkan ekspansi PDAM dan kawasan industri masing-masing hanya
menaikkan unmet demand irigasi 0,41% dan 0,21% karena titik pengambilannya
berada di hilir waduk. Produksi PLTA Jatigede berkisar 256,70 hingga 407,77 GWh
dan tidak mencapai target 462,6 GWh pada satu pun kombinasi skenario dan
kondisi hidrologi, dengan potensi emisi substitusi mencapai 164,72 ribu ton CO2e.
Setiap satu juta m3
tambahan air irigasi menghasilkan trade-off 32,17 MWh energi
terbarukan dan 25,74 ton CO2e pada kondisi normal.
Berdasarkan analisis WEF Nexus, pengembangan kebijakan direkomendasikan
dengan integrasi yang meliputi penyediaan sumber air alternatif untuk irigasi,
penerapan prinsip reclaimed water guna membatasi pengambilan air baku sektor
industri, integrasi target produksi energi dalam prioritas alokasi spasial, serta
pengembangan pembangkit energi bauran.
Perpustakaan Digital ITB