Industri polyvinyl chloride (PVC) compound di Kabupaten Tangerang yang meliputi pencampuran, penggilingan, dan ekstrusi resin PVC beserta bahan aditifnya berpotensi melepaskan partikel respirabel dust, termasuk mikroplastik terespirasi, ke udara lingkungan kerja. Partikel tersebut dapat terhirup oleh pekerja dan berisiko menimbulkan gangguan kesehatan pernapasan. Penelitian ini bertujuan menganalisis konsentrasi respirabel dust dan karakteristik mikroplastik terespirasi di udara kerja, menilai fungsi paru pekerja beserta hubungannya dengan pajanan, serta menghitung tingkat risiko kesehatan menggunakan pendekatan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL). Penelitian menggunakan desain observasional cross-sectional terhadap 40 responden (30 kelompok terpajan dan 10 kelompok kontrol). Data dikumpulkan melalui pengukuran gravimetri respirable dust, identifikasi jenis polimer dengan Fourier Transform Infrared (FTIR) ATR, serta uji fungsi paru menggunakan spirometer, kemudian dianalisis melalui perhitungan Chronic Daily Intake (CDI) dan Hazard Quotient (HQ). Hasil menunjukkan konsentrasi respirable dust pada kelompok terpajan sebagian besar masih di bawah Nilai Ambang Batas (NAB) 3 mg/m³, namun dua titik (S29 dan S30) melewati nilai ambang batas, yaitu 3,7 dan 3,2 mg/m³, dan berbeda signifikan dibandingkan kelompok kontrol (p=0,002). Mikroplastik dominan teridentifikasi sebagai polyethylene, yaitu chlorosulfonated polyethylene turunan polietilena yang lazim digunakan sebagai bahan aditif atau pemodifikasi dalam PVC compound dengan nilai kecocokan spektrum (hit quality) 93 yang menunjukkan tingkat keyakinan identifikasi yang tinggi. Jumlah mikroplastik pada kelompok terpajan (27–480 partikel/sampel) jauh lebih tinggi daripada kelompok kontrol (27–58 partikel/sampel), dengan bentuk pelet (5.475 partikel) dan fiber (2.467 partikel) paling dominan. estimasi asupan (CDI) mikroplastik PE melalui inhalasi pada kelompok terpajan berkisar 22,7–579,7 partikel/kg.hari dibandingkan 25,6–55,0 partikel/kg.hari pada kelompok kontrol. Karakterisasi risiko memperoleh rata-rata HQ kelompok terpajan sebesar 1,2579±1,7782 (maksimum 7,2494), dengan 8 dari 30 pekerja (26,6%) berada pada kategori tidak aman (HQ>1), sedangkan seluruh kelompok kontrol tergolong aman. Tidak ditemukan hubungan signifikan antara CDI mikroplastik dan penurunan fungsi paru (FVC p=0,919; FEV? p=0,928). Penelitian merekomendasikan pengendalian teknis berupa Local Exhaust Ventilation berfiltrasi HEPA dan surveilans kesehatan berkala.
Perpustakaan Digital ITB