ABSTRAK Lisana Sidqin Darisman
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Provinsi Sumatera Selatan menghadapi tekanan ganda antara pertumbuhan
penduduk dari 8,93 juta jiwa (2025) menjadi 11,42 juta jiwa (2044) dan alih fungsi
lahan sawah yang berpotensi menyusutkan luas sawah dari 514.098 ha menjadi
431.083 ha tanpa intervensi kebijakan, sementara jaringan irigasi formal hanya
sepanjang 370,81 km dan terkonsentrasi pada 3 dari 17 kabupaten/kota. Penelitian
ini bertujuan menganalisis kebutuhan infrastruktur irigasi lahan sawah di Provinsi
Sumatera Selatan hingga tahun 2044 berdasarkan proyeksi luas sawah, kebutuhan
air irigasi, dan Indeks Kebutuhan Irigasi (IKI), dengan mempertimbangkan tiga
skenario: Kebutuhan Energi dan Pangan (demand), Alih Fungsi Lahan (business as
usual/BAU), dan Protecting Paddy Field (PPF). Penelitian menggunakan
pendekatan skenario dan analisis spasial berbasis SIG, meliputi proyeksi penduduk
dan produktivitas padi, konversi kebutuhan kalori, simulasi Cellular AutomataMarkov (MOLUSCE) untuk perubahan tutupan lahan, perhitungan kebutuhan air
irigasi berdasarkan nilai referensi 1,51 l/det per hektare, serta penyusunan IKI
melalui metode Weighted Linear Combination (WLC) dan estimasi kebutuhan
tambahan jaringan irigasi menggunakan pendekatan density benchmark. Hasil
penelitian menunjukkan kebutuhan luas sawah normatif tahun 2044 mencapai
558.342 ha, sedangkan ketersediaan pada Skenario BAU hanya 431.083 ha (defisit
22,8%), yang dapat ditekan menjadi hanya 2,5% melalui Skenario PPF dengan luas
sawah terlindungi 544.222 ha. Kebutuhan air irigasi tertinggi konsisten
terkonsentrasi di Banyuasin, Ogan Komering Ilir, dan OKU Timur. Analisis IKI
menunjukkan lima kabupaten berkategori kebutuhan tinggi akibat kepadatan
jaringan irigasi rendah dan jarak jauh terhadap jaringan eksisting, dengan estimasi
kebutuhan tambahan jaringan irigasi pada kelas tinggi mencapai 5.779,79 km
(BAU) dan 6.722,20 km (PPF).
Perpustakaan Digital ITB