ABSTRAK Nadhilah Anargya Athaillah
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 1 Nadhilah Anargya Athaillah
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 2 Nadhilah Anargya Athaillah
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 3 Nadhilah Anargya Athaillah
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 4 Nadhilah Anargya Athaillah
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 5 Nadhilah Anargya Athaillah
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 6 Nadhilah Anargya Athaillah
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
PUSTAKA Nadhilah Anargya Athaillah
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
LAMPIRAN Nadhilah Anargya Athaillah
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
DKI Jakarta sebagai wilayah pesisir menghadapi tekanan hidrologi ganda yang
saling memperkuat: risiko banjir yang dinamis dan land subsidence yang
berlangsung progresif. Luas genangan banjir menurun dari 18.540,88 Ha (2015)
menjadi 14.689,43 Ha (2025), namun dominasi wilayah terdampak berpindah dari
Jakarta Utara menuju Jakarta Selatan yang mencatatkan proporsi genangan
berbahaya tertinggi. Kondisi ini diperparah oleh laju penurunan muka tanah ratarata -1,86 cm/tahun yang merusak elevasi dan kapasitas tampung saluran drainase
eksisting, membuktikan bahwa grey infrastructure konvensional tidak lagi
memadai. Diperlukan transformasi menuju intervensi hidrologi yang menahan dan
meresapkan air langsung dari sumbernya, sebagaimana prinsip Sponge City.
Penelitian ini bertujuan menganalisis potensi penerapan konsep Sponge City di DKI
Jakarta melalui pendekatan spasial-kuantitatif berdasarkan kondisi biofisik dan
hidrologi untuk menentukan wilayah prioritas implementasi.
Metode yang digunakan adalah Spatial Multi-Criteria Evaluation (SMCE)
berbasis Weighted Linear Combination (WLC) yang mengintegrasikan empat
parameter dengan bobot melalui Rank Order Centroid (ROC), yaitu tutupan lahan
(52,08%), kemiringan lereng (27,08%), curah hujan (14,58%), dan jenis tanah
(6,25%). Model diuji melalui analisis sensitivitas One-at-a-Time (OAT) pada
delapan skenario variasi bobot, serta validasi spasial terhadap 1.291 titik genangan
banjir. Hasil pemodelan di-overlay dengan Peta Pola Ruang RDTR untuk
mengidentifikasi zona prioritas, kemudian diinterseksi dengan peta penggunaan
lahan eksisting guna merumuskan rekomendasi infrastruktur yang kontekstual
terhadap regulasi tata ruang Jakarta.
Hasil menunjukkan kawasan terbangun mendominasi hingga 89,38% wilayah,
sementara tutupan lahan resapan alami menyusut drastis, yaitu semak belukar (-
80,88%), lahan pertanian (-58,78%), dan tanah terbuka (-47,65%). Indeks
Potensi Sponge City menunjukkan 59,29% wilayah DKI Jakarta berada pada Kelas
4 (Potensi Sangat Tinggi), terkonsentrasi di Jakarta Selatan (91,5%) dan Jakarta
Timur (71,1%). Pemadatan tanah perkotaan turut mereduksi kapasitas infiltrasiv
sehingga jenis tanah Dystric Nitisols direklasifikasi dari HSG B menjadi HSG C.
Model terbukti konsisten terhadap variasi pembobotan (fluktuasi luas hanya
0,182%) dan tervalidasi kuat, dengan 73,59% titik genangan eksisting berada tepat
pada zona prioritas hasil pemodelan.
Dibandingkan kajian Sponge City Jakarta yang umumnya deskriptif pada skala
kawasan mikro atau tinjauan literatur, penelitian ini menawarkan kebaruan melalui
pendekatan spasial-kuantitatif skala kota yang menjadikan dua ancaman bencana
sebagai justifikasi urgensi dan menerjemahkannya ke dalam parameter biofisikhidrologi terukur untuk pemodelan SMCE. Penelitian ini membuktikan bahwa
wilayah dengan urgensi tertinggi atau 93,71% area prioritas merupakan kawasan
budidaya aktif yang didominasi permukiman padat (42,93%) dan jaringan jalan
(13,44%), bukan lahan kosong yang dapat dikonversi bebas. Temuan ini mengubah
paradigma implementasi dari penyediaan ruang baru menjadi strategi integrasi
infrastruktur resapan seperti permeable pavement, biopori, dan rainwater
harvesting ke dalam lingkungan terbangun eksisting.
Secara akademik, penelitian ini berkontribusi pada ilmu perencanaan wilayah dan
kota melalui penerapan evaluasi multikriteria spasial pada kota pesisir dengan
tekanan bencana hidrologi ganda. Secara praktis, penelitian ini menghasilkan basis
data spasial dan justifikasi regulasi (Pergub DKI 109/2021, Permen ATR/BPN
14/2022, Pergub DKI 20/2024) yang dapat menjadi pedoman pemangku kebijakan
dalam menentukan lokasi prioritas dan jenis infrastruktur Sponge City sesuai
tipologi fisik dan pola pemanfaatan ruang di setiap zona DKI Jakarta
Perpustakaan Digital ITB