Distrik Abepura dan sekitarnya di Kota Jayapura menghadapi krisis ketersediaan air bersih akibat ketergantungan tinggi pada sumber air permukaan dari Pegunungan Cycloop yang debitnya semakin terbatas. Selama 20 tahun terakhir belum ada penambahan sumber air baru, sementara PDAM telah menerapkan sistem pengaliran bergilir yang mengindikasikan kapasitas produksi tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan secara kontinu. Penelitian ini bertujuan menganalisis potensi air tanah sebagai sumber alternatif melalui integrasi empat metode: survei geolistrik resistivitas VES, analisis isotop stabil ?¹?O–?²H, pengukuran kualitas air in-situ, dan pemodelan numerik MODFLOW.
Survei geolistrik VES konfigurasi Schlumberger dilakukan pada 13 titik pengukuran dan diolah menggunakan IPI2win serta Progress 3.0. Analisis isotop stabil dilakukan pada 9 sampel air dari berbagai sumber (air hujan, mata air, air sumur, air danau, dan air laut) menggunakan instrumen Picarro L2130-i di Laboratorium Hidrogeologi dan Hidrogeokimia ITB. Pengukuran kualitas air in-situ dilakukan pada 17 titik menggunakan Water Quality Meter 7-in-1. Model numerik dibangun menggunakan Visual MODFLOW dengan simulasi steady state dan transien selama 14 tahun (2026–2040).
Hasil survei VES mengidentifikasi 11 dari 13 titik yang mengkonfirmasi keberadaan akuifer Pasir Tufan pada kedalaman 3–84 m, dengan akuifer paling tebal di titik Aspol (50,6 m), Kotaraja Dalam (39,7 m), Yotefa (32,6 m), dan UNCEN (20,3 m). Material vulkaniklastik berupa Tufa Breksi (100–200 Ohm.m) dan Breksi Tufa (>200 Ohm.m) yang dijumpai di beberapa titik tidak berfungsi sebagai akuifer karena bersifat matrix-supported dengan matriks abu vulkanik teralterasi yang impermeabel. Zona air payau terdeteksi di titik Otonom (0,27 Ohm.m pada kedalaman 50,4–79,2 m), mengindikasikan pengaruh intrusi air laut.
Analisis isotop stabil mengkonfirmasi bahwa air tanah di dataran rendah (?¹?O = ?8,5 hingga ?9,0‰) bukan merupakan infiltrasi hujan lokal secara langsung (?¹?O hujan = ?14,3 hingga ?14,4‰), melainkan hasil percampuran dengan komponen aliran regional dari zona imbuhan di lereng Pegunungan Cycloop (>1.800 m dpl). Perbandingan isotopik antara Danau Sentani (?¹?O = ?6,0‰; d-excess +6,96‰) dan Mata Air Padang Bulan (?¹?O = ?8,974‰; d-excess +16,9‰) selisih ?¹?O 2,974‰ disertai kontras d-excess yang nyata itu membuktikan bahwa Danau Sentani bersifat gaining lake atau disconnected terhadap akuifer dan tidak memberikan kontribusi signifikan terhadap imbuhan air tanah. Gradien isotopik konsisten dengan pola aliran model MODFLOW dari Cycloop menuju Teluk Yos Sudarso. Pengukuran kualitas air pada 17 titik menunjukkan seluruh parameter memenuhi atau mendekati baku mutu PerMenKes 492/2010 dan WHO 2011 dengan kondisi aerobik di seluruh titik.
Model MODFLOW dikalibrasi dengan R² = 99% dan Normalized RMS = 3,681%. Simulasi pemompaan 32 sumur bor (total 6.400 m³/hari) selama 14 tahun menghasilkan rata-rata penurunan head sebesar 10,45 m dengan head minimum 1,90 m dpl (W16 Yotefa Lama) yang masih di atas muka air laut sehingga tidak memicu intrusi; namun zonasi Permen ESDM No. 31 Tahun 2018 menunjukkan mayoritas titik berada pada status KRITIS (10 titik) hingga RUSAK (1 titik) tanpa titik AMAN, sehingga pemenuhan defisit direkomendasikan melalui skema hibrida 16 sumur bor (3.200 m³/hari) dan pemanfaatan Danau Sentani via IPA (3.132 m³/hari), bukan eksploitasi penuh 32 sumur.. Neraca air model meningkat dari 6.425,7 m³/hari (steady state) menjadi 10.103 m³/hari (transien 14 tahun) melalui mekanisme capture zone effect. Simulasi MT3DMS mengkonfirmasi tidak terjadinya intrusi air laut pada debit pemompaan normal. Kawasan Aspol, UNCEN, dan Yotefa direkomendasikan sebagai zona prioritas tinggi untuk pengembangan sumur bor, dengan catatan pembatasan penambahan sumur di zona Aspol (penurunan head 36 m) dan monitoring prioritas di zona pesisir (W16, W14).
Perpustakaan Digital ITB