digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800


COVER Zhulal Zayd Dhudayev
Terbatas  Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 1 Zhulal Zayd Dhudayev
Terbatas  Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 2 Zhulal Zayd Dhudayev
Terbatas  Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 3 Zhulal Zayd Dhudayev
Terbatas  Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 4 Zhulal Zayd Dhudayev
Terbatas  Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 5 Zhulal Zayd Dhudayev
Terbatas  Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan

PUSTAKA Zhulal Zayd Dhudayev
Terbatas  Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan

LAMPIRAN Zhulal Zayd Dhudayev
Terbatas  Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan

Kualitas pohon merupakan hasil penilaian atribut visual pada pohon berdiri yang mencerminkan karakteristik pertumbuhan, berbeda dengan penilaian kualitas kayu pada produk olahan. Dalam konteks pengelolaan hutan, kualitas pohon dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah perlakuan budidaya melalui pola tanam agroforestri. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pola tanam agroforestri terhadap pertumbuhan dan kualitas pohon dalam menghasilkan kayu. Parameter pertumbuhan yang diamati meliputi diameter batang (DBH), tinggi total, tinggi bebas cabang, serta riap menggunakan Mean Annual Increment (MAI), sedangkan kualitas pohon merupakan penilaian kumulatif melalui metode Forest Health Monitoring (FHM) sebagai representasi kualitas kesehatan pohon dan skoring pohon plus sebagai representasi kualitas visual eksternal pohon. Penelitian dilakukan di Desa Sindangsari, Kabupaten Sumedang, pada lima pola tanam agroforestri, yaitu Random Individual, Random Mix: Block/Group, Strips: Alley Cropping, Trees Along Border, dan Combination. Hasil penelitian menunjukkan adanya variasi struktur tegakan pada masing-masing pola yang memengaruhi dinamika pertumbuhan melalui tingkat kompetisi dan pemanfaatan ruang tumbuh. Pola Strips: Alley Cropping menunjukkan performa pertumbuhan terbaik dengan nilai diameter dan tinggi yang relatif tinggi. Misalnya, rata-rata DBH pola Strips: Alley Cropping 29,5 cm (rentang 9,3–70 cm) jauh lebih tinggi dibanding pola tanam lain. Demikian pula rata-rata tinggi total dan tinggi bebas v cabang, meski pola Strips: Alley Cropping memiliki outlier sangat tinggi. Pola Strips: Allry Cropping juga memiliki tingkat kerusakan terendah (CLI = 2,16), yang mengindikasikan kualitas tegakan paling sehat. Sementara itu, kualitas pohon kumulatif dengan skor tertinggi diperoleh pada pola Random Mix: Block/Group (skor rata-rata 41,46), yang diduga dipengaruhi oleh kompetisi yang mendorong pertumbuhan batang lebih lurus dan peningkatan tinggi bebas cabang sehingga diasumsikan pola paling unggul dalam menghasilkan batang kayu berkualitas. Namun, hasil uji Kruskal–Wallis menunjukkan bahwa perbedaan pola tanam tidak berpengaruh signifikan terhadap kualitas pohon (p > 0,05), sehingga faktor lokal seperti kompetisi individu dan kondisi mikrohabitat lebih berperan. Misalnya, kesuburan tanah (bahan organik dan hara makro), keasaman tanah (pH tanah), ketersediaan air tanah, topografi, serta faktor mikroklimat seperti intensitas cahaya, suhu dan kelembapan udara. Penelitian ini menunjukkan adanya trade-off antara pertumbuhan, kualitas kesehatan, dan kualitas pohon secara kumulatif. Pemilihan pola tanam dapat disesuaikan dengan prioritas antara produksi kayu kuantitas atau kualitas. Untuk hasil kayu optimal secara luas, Strips: Alley Crop direkomendasikan. Untuk mutu batang, Random Mix Block/Group menjadi alternatif saat kualitas kayu solid (batang lurus) diutamakan dengan syarat pengelolaan intensif. Mengingat bahwa skor kualitas pohon merupakan indikator komposit yang mencakup parameter diameter batang, tinggi pohon, tinggi bebas cabang, kesehatan pohon, dan bentuk batang. Dengan demikian, pemilihan pola tanam agroforestri perlu disesuaikan dengan tujuan pengelolaan hutan yang diinginkan.