Peningkatan kebutuhan energi listrik di Indonesia masih didominasi oleh
pembangkit berbahan bakar fosil, khususnya batubara. Dalam upaya penurunan
emisi gas rumah kaca dan pencapaian Net Zero Emission (NZE) tahun 2060, salah
satu strategi yang dapat diterapkan untuk mendukung target tersebut adalah
implementasi co-firing biomassa pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh variasi rasio co-firing
biomassa sawdust terhadap performa pembangkit, emisi CO?, dan aspek teknoekonomi
pada PLTU Lontar Unit 2. Penelitian dilakukan menggunakan metode
simulasi termodinamika dengan software Gate Cycle V.5.61.0.0 yang telah
divalidasi menggunakan data commissioning test PLTU Lontar Unit 2. Variasi rasio
co-firing yang dianalisis meliputi kondisi coal firing (0%) dan co-firing biomassa
sawdust sebesar 5%, 10%, 15%, dan 20% pada kondisi beban maksimum dan
asumsi operasi steady state. Parameter yang dianalisis meliputi total fuel flow,
Specific Fuel Consumption (SFC), Gross Turbine Heat Rate (GTHR), efisiensi
boiler, daya pembangkit, emisi CO?, serta analisis tekno-ekonomi yang ditinjau dari
biaya bahan bakar dan biaya produksi listrik.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan rasio co-firing biomassa sawdust
menyebabkan kenaikan kebutuhan laju alir bahan bakar dari 168,02 ton/h mencapai
190,22 ton/h, nilai SFC dan GTHR mengalami kenaikan masing-masing naik dari
0,58 kg/kWh menjadi 0,66 kg/kWh untuk SFC sedangkan nilai GTHR naik dari
1925,52 kcal/kWH menjadi 1928,27 kcal/kWH akibat nilai kalor biomassa yang
lebih rendah dibandingkan batubara. Peningkatan persentase biomassa pada proses
co-firing juga menyebabkan nilai Net Plant Heat Rate (NPHR) mengalami
peningkatan secara bertahap dari 2485,48 kcal/kWh menjadi 2587,39 kcal/kWh
akibat dari peningkatan daya pemakaian sendiri. Selain itu, peningkatan persentase
biomassa juga menyebabkan penurunan efisiensi boiler dari 80,99% menjadi
80,42% dan daya keluaran pembangkit turun sebesar 37,95 MW apabila daya
generator tidak dipertahankan konstan. Namun demikian, implementasi co-firing
memberikan manfaat lingkungan berupa penurunan emisi CO? sebesar 17 ton
CO2/MWh pada presentase biomassa 20%. Dari aspek tekno-ekonomi, penerapan
co-firing akan meningkatkan biaya pokok produksi (BPP) dari 604,13 rupiah/kWh
menjadi 632,43 rupiah/kWh dengan presentase biomassa sebesar 20%. Pada skema
pola operasi output generator yang dibuat tidak tetap maka dari mode coal firing ke
iii
mode co-firing 20%, loss output akibat turunannya output generator dari 289,01
MW ke 251,17 MW mencapai 37,95 juta/jam. Dari perbandingan dua pola operasi,
unit pembangkit dengan skema output generator dibuat tidak tetap akan merugikan
perusahaan sebesar 37,95 juta/jam. Sedangkan dengan pola operasi output
generator dibuat tetap, penerapan presentase 20% co-firing biomassa akan
merugikan perusahaan sebesar 8,22 juta/jam. Kerugian dua pola operasi ini dihitung
dari biaya pokok produksi listrik dan kerugian akibat potensi kehilangan kWH
produksi listrik. Agar implementasi co-firing dapat dianggap layak secara finansial
maka dibutuhkan penyesuaian beberapa faktor yang dijelaskan dalam beberapa
skema, yaitu skema nilai kalor biomassa naik dari 2201 kcal/kg menjadi 2439,69
kcal/kg atau skema selanjutnya adalah penurunan harga biomassa dari 600
rupiah/kg menjadi 528,24 rupiah/kg. Rasio co-firing sebesar 5% merupakan kondisi
yang paling optimal untuk diimplementasikan pada PLTU Lontar Unit 2 karena
mampu memberikan pengurangan emisi karbon dengan penurunan performa
pembangkit yang tidak signifikan.
Perpustakaan Digital ITB