Bambu betung (Dendrocalamus asper) merupakan salah satu hasil hutan non-kayu
yang berpotensi sebagai alternatif pengganti kayu karena memiliki pertumbuhan
cepat dan sifat mekanik yang baik. Namun, bambu memiliki keterawetan alami
yang relatif rendah akibat kandungan pati dan kadar air yang tinggi sehingga rentan
terhadap serangan organisme perusak dan perubahan struktur internal. Penelitian
ini bertujuan untuk menentukan pengaruh umur bambu dan metode perendaman
terhadap sifat fisik bambu betung serta menentukan metode perendaman yang
menghasilkan karakteristik sifat fisik terbaik. Penelitian menggunakan Rancangan
Acak Kelompok (RAK) faktorial 2 × 3 dengan dua faktor, yaitu umur bambu (muda
dan tua) serta metode perendaman (kontrol, rendam air, dan rendam lumpur).
Parameter yang diamati meliputi daya serap air, pengembangan volume, kadar air,
dan distribusi kerapatan struktur bambu menggunakan metode Computed
Tomography (CT scan). Data dianalisis menggunakan analisis sidik ragam
(ANOVA) pada taraf kepercayaan 95% dan dilanjutkan dengan uji Duncan apabila
menunjukkan pengaruh nyata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa umur bambu
dan metode perendaman berpengaruh terhadap sifat fisik bambu betung. Bambu tua
memiliki daya serap air, kadar air, dan pengembangan volume yang lebih rendah
dibandingkan bambu muda serta menunjukkan distribusi kerapatan yang lebih
stabil dan homogen. Perlakuan rendam air menghasilkan nilai daya serap air dan
kadar air tertinggi, sedangkan perlakuan lumpur cenderung menghasilkan
kestabilan dimensi dan distribusi kerapatan yang lebih baik dibandingkan perlakuan
lainnya. Hasil CT scan menunjukkan bahwa bambu tua memiliki struktur internal
yang lebih padat dan stabil dibandingkan bambu muda.
Perpustakaan Digital ITB