digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Muhammad Wafizia
PUBLIC Open In Flipbook Esha Mustika Dewi

COVER - Muhammad Wafizia
Terbatas  Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 1 - Muhammad Wafizia
Terbatas  Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 2 - Muhammad Wafizia
Terbatas  Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 3 - Muhammad Wafizia
Terbatas  Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 4 - Muhammad Wafizia
Terbatas  Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 5 - Muhammad Wafizia
Terbatas  Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan

DAFTAR PUSTAKA - Muhammad Wafizia
Terbatas  Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan

Batu bara peringkat rendah yang banyak digunakan pada PLTU di Indonesia umumnya memiliki kadar air tinggi sehingga menurunkan nilai kalor bahan bakar dan efisiensi pembangkit. Salah satu metode untuk meningkatkan kualitas batu bara adalah melalui pengering an menggunakan uap ekstraksi turbin sebagai sumber kalor. Namun, pengambilan uap ekstraksi berpotensi memengaruhi kinerja siklus pembangkit serta memerlukan sistem transmisi uap yang memenuhi kriteria desain. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keb utuhan uap ekstraksi, menentukan spesifikasi pipa transmisi uap, serta mengevaluasi pengaruh posisi titik ekstraksi terhadap kinerja teknis dan kelayakan ekonomi PLTU Tanjung Jati B. Penelitian dilakukan menggunakan Aspen Plus dan Aspen HYSYS dengan memodelkan pengeringan batu bara dari kadar air 40% menjadi 30% pada variasi fraksi massa batu bara yang dikeringkan sebesar 0,05 – 0,30. Kebutuhan uap ekstraksi dihitung berdasarkan kebutuha n kalor pengeringan dan dikoreksi terhadap kerugian tekanan serta kehilangan kalor sepanjang pipa transmisi. Spesifikasi pipa ditentukan berdasarkan kriteria kecepatan erosional dan kerugian tekanan. Evaluasi teknis dilakukan menggunakan parameter heat rate , net power output (NPO), efisiensi termal, dan specific steam consumption , sedangkan analisis keekonomian dievaluasi melalui biaya bahan bakar berbasis Harga Batubara Acuan (HBA), biaya pembangkitan (Rp/kWh), dan margin kotor tahunan. Hasil penelitian menunjukkan kebutuhan uap ekstraksi sebesar 4, 78 – 28 , 28 ton/jam dengan diameter pipa optimum NPS 12. Peningkatan LHV batu bara hasil pengeringan berhasil menurunkan konsumsi bahan bakar dan biaya HBA. Secara teknis, ekstraksi uap pada HP1 memberikan penalti kinerja terbesar, diikuti HP2 dan IP2. Secara ekonomi , pada fraksi rendah (0,05), penghematan bahan bakar mampu mengimbangi penalti NPO sehingga menurunkan biaya pembangkitan di bawah baseline (Rp 644 , 70 /kWh), dengan IP2 mencapai Rp 644 , 15 /kWh. Namun pada fraksi tinggi, penalti NPO mendominasi sehingga biaya pembangkitan naik dan margin kotor menurun di seluruh skenario akibat berkurangnya energi yang dijual. Titik ekstraksi IP2 memberikan kompromi teknis - ekonomi terbaik.