digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Abstrak
PUBLIC Open In Flipbook Nugi Nugraha

Abstrak inggris
PUBLIC Open In Flipbook Nugi Nugraha

Kawasan karst rentan terhadap pencemaran, termasuk mikroplastik, namun penelitian mengenai pencemaran mikroplastik dan valuasi dampaknya pada sistem sungai bawah tanah masih sangat terbatas, khususnya di Indonesia. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi karakteristik, sumber pencemaran, dan dampak ekonomi pencemaran mikroplastik pada Sistem Sungai Bawah Tanah Bribin sebagai sumber air baku utama masyarakat Kabupaten Gunungkidul. Pengambilan sampel dilakukan pada enam titik yang mewakili segmen hulu, tengah, dan hilir. Analisis karakteristik mikroplastik meliputi kelimpahan, ukuran, bentuk, warna, dan jenis polimer menggunakan ATR-FTIR. Analisis sumber pencemaran dan transport spasial dilakukan melalui pendekatan geospasial berbasis penggunaan lahan, sedangkan valuasi ekonomi menggunakan pollution control cost, replacement cost, dan benefit transfer. Kemelimpahan mikroplastik berkisar 30-159 ± 3,6-9,8 n/L dengan nilai rata-rata 96,2 ± 48,8 n/L, dan ukuran antara 4,94-2887,31 µm serta didominasi ukuran 21-40 µm. Mikroplastik didominasi berbentuk fragmen dengan polimer polietilen (PE). Sumber pencemaran berasal dari kawasan permukiman, pertanian, dan wisata. Transport mikroplastik kemungkinan dikendalikan oleh konektivitas hidrologi karst melalui ponor, sinkhole, rekahan, dan conduit, serta dipengaruhi oleh besarnya masukan dari daerah tangkapan, karakteristik fisik mikroplastik, dan kompleksitas jaringan aliran bawah tanah. Kerugian ekonomi akibat hilangnya fungsi Sistem Sungai Bawah Tanah Bribin sebagai sumber air baku diperkirakan mencapai Rp286,88-724,32 miliar, sedangkan biaya pengendalian pencemaran sebesar Rp707,30 miliar. Harga air PDAM saat ini Rp5000 /m3, jika terjadi pencemaran, upaya pengendalian pencemaran menghasilkan harga air Rp11.788 /m3. Jika sumber air baku diganti maka harga air menjadi 34.375-79.166 /m3. Dengan memperhitungkan kerugian jasa ekosistem, total kerugian ekonomi mencapai Rp366,94-804,38 miliar berdasarkan pendekatan replacement cost dan Rp787,36 miliar berdasarkan pollution control cost. Hasil ini menunjukkan bahwa pengendalian pencemaran mikroplastik merupakan alternatif yang lebih murah dibandingkan penggantian fungsi sumber air baku serta menegaskan pentingnya perlindungan kualitas air untuk menjaga keberlanjutan jasa ekosistem kawasan karst.