Kegiatan penambangan batubara menghasilkan material disposal dalam jumlah
besar, sementara keterbatasan lahan menuntut penambahan ketinggian lereng
sehingga sifat mekanik material penyusunnya perlu ditingkatkan agar lereng tetap
stabil. Penelitian ini menganalisis pengaruh kombinasi fly ash, serat sabut kelapa,
semen portland, dan zat aditif berbasis pertukaran ion terhadap sifat mekanik tiga
material disposal, yaitu overburden, pasir, dan fine coal, serta implikasinya terhadap
kestabilan lereng. Pengujian laboratorium meliputi sifat fisik, pemadatan, kuat
tekan uniaksial (UCS), dan geser langsung pada material asli maupun terstabilisasi
dengan beragam variasi campuran dan perawatan 3, 7, 14, dan 28 hari, kemudian
parameter kuat gesernya digunakan untuk analisis kestabilan lereng. Pada kondisi
awal, overburden tergolong lempung plastisitas rendah (CL) dengan UCS 81,43
kPa, kohesi 28,38 kPa, dan sudut gesek dalam 33,26°. Pasir tergolong pasir lanauan
(SM) nonkohesif dengan sudut gesek dalam 20,34°. Fine coal tergolong pasir
lanauan (SM) paling lemah dengan UCS 52,69 kPa, kohesi 4,78 kPa, dan sudut
gesek dalam 15,93°. Fly ash berperan sebagai bahan pozzolanik, serat
meningkatkan perilaku daktail, semen meningkatkan kohesi terbesar, dan zat aditif
meningkatkan daya ikat antarpartikel. Kombinasi optimum adalah
FA20+S1+CM7+AD untuk overburden dan pasir, serta FA30+S1+CM7+AD untuk
fine coal. Stabilisasi meningkatkan UCS overburden hingga 28,5 kali, kohesi fine
coal hingga 19,9 kali, dan sudut gesek dalam hingga 3,4 kali dibanding kondisi
awal. Pada lereng disposal setinggi 83 meter, faktor keamanan dinamis meningkat
dari 0,974 menjadi 1,104 melalui penempatan material stabilisasi pada kaki lereng,
sehingga memenuhi kriteria minimal Kepmen ESDM Nomor 1827
K/30/MEM/2018. Hasil penelitian membuktikan kombinasi keempat bahan efektif
meningkatkan sifat mekanik material disposal sekaligus mendukung desain
disposal yang lebih aman dan efisien.
Perpustakaan Digital ITB