Sinyal GPS mengalami refraksi atau pembiasan dalam perjalanannya dari satelit ke antena
receiver ketika melalui lapisan troposfer. Besarnya penyimpangan jarak akibat perlambatan
waktu tempuh sinyal GPS saat melewati lapisan troposfer, umumnya disebut sebagai delay
troposfer. Delay troposer pada arah zenith disebut dengan Zenith Total Delay. ZTD terdiri
dari komponen hidrostatik, Zenith Hydrostatic Delay dan komponen basah, Zenith Wet
Delay. Besaran ZTD ini selain digunakan sebagai faktor koreksi terhadap ukuran jarak dari
satelit ke antena, khususnya dalam aplikasi geodesi yang membutuhkan ketelitian tinggi,
dapat juga digunakan sensor meteorologis di suatu lokasi pengamatan.
Tugas akhir ini akan mengulas beberapa teori dasar mengenai bias troposfer pada sinyal GPS
serta akan mengestimasi nilai ZTD pada titik di Sumatera menggunakan data pengamatan
GPS kontinyu SUGAR, Sumatera GPS Array. Nilai ZTD dari data GPS dihitung
menggunakan software Bernese 5.0. Metode pengolahan dilakukan dengan 2 cara, pertama
dengan menggunakan mode jaring “obsmax” atau jaring optimal yang dibuat oleh software.
Kedua, pengolahan dilakukan secara single baseline untuk tiap stasiun. Sebelumnya, untuk
memutuskan model troposfer apa yang paling cocok digunakan, pada pengolahan secara
jaring obsmax, diterapkan 2 model troposfer yang berbeda yaitu model Niell dan Hopfield.
Untuk kemudian dibandingkan terhadap nilai ZTD pada titik BAKO dan NTUS yang
diestimasi oleh IGS.
Nilai estimasi ZTD pada titik BAKO dan NTUS yang dihasilkan menggunakan model
Hopfield umumnya lebih mendekati nilai solusi dari IGS dengan nilai rerata selisih antara
solusi IGS dengan hasil pengolahan menggunakan model hopfield sebesar 7 mm untuk titik
BAKO dan 9 mm untuk titik NTUS. Sedangkan penggunaan model Niell menghasilkan nilai
selisih sebesar 18 mm untuk titik BAKO dan 16 mm untuk titik NTUS. Sehingga pengolahan
selanjutnya dilakukan mengunakan model Hopfield. Nilai ZTD yang dihasilkan dari hitungan
secara jaring umumnya menghasilkan nilai yang lebih besar sekitar 10 cm sampai 20 cm
terhadap hasil hitungan menggunakan single baseline. Metode single baseline kemudian akan
digunakan pada proses hitungan selanjutnya. Selain itu tugas akhir ini akan menunjukkan
perbedaan pola ZTD pada masing-masing titik pengamatan di Sumatera, dan pemilihan titik
ikat untuk masing-masing itik pengamat terkait dengan hitungan secara single baseline
tersebut.
Perpustakaan Digital ITB