2007 TS PP DANIEL OCTAVIANUS HARAHAP 1-BAB 5 PART 1
PUBLIC Open In Flipbook Yanti Sri Rahayu, S.Sos 2007 TS PP DANIEL OCTAVIANUS HARAHAP 1-BAB 5 PART 2
PUBLIC Open In Flipbook Yanti Sri Rahayu, S.Sos 2007 TS PP DANIEL OCTAVIANUS HARAHAP 1-BAB 5 PART 3
PUBLIC Open In Flipbook Yanti Sri Rahayu, S.Sos 2007 TS PP DANIEL OCTAVIANUS HARAHAP 1-PUSTAKA
PUBLIC Open In Flipbook Yanti Sri Rahayu, S.Sos
Meningkatnya harga minyak dunia dan gas alam dengan cadangan yang
makin menipis membuat beberapa operator pembangkit mencari bahan bakar
alternatif. Dibanding minyak dan gas, cadangan batubara paling berlimpah.
Namun pemanfaatan langsung batubara pada turbin gas hingga saat ini belum
memungkinkan, sehingga untuk menerapkan batubara pada turbin gas dibutuhkan
proses tersendiri. Salah satu proses yang cukup berhasil adalah gasifikasi batubara
yang menghasilkan gas batubara.
Kendala dalam pemanfaatan gas batubara pada turbin gas adalah nilai
kalornya yang rendah (dibanding gas alam), sehingga untuk mencapai temperatur
pada laju massa tertentu dibutuhkan laju massa gas batubara yang lebih besar.
Hasil perhitungan siklus temodinamika menunjukan dibutuhkan laju gas batubara
sebesar 41 kg/s sedangkan untuk gas alam hanya dibutuhkan 11 kg/s.
Dalam tesis ini dianalisis penggunaan gas batubara pada ruang bakar
turbin gas berjenis silo yang dirancang menggunakan gas alam. Ruang bakar silo
ini dilengkapi swirl pada nosel bahan bakar dan nosel udara primer. Metode
penelitiannya menggunakan analisis CFD atau lebih dikenal sebagai simulasi
pembakaran. Hasil simulasi pada penggunaan gas alam akan dijadikan acuan,
kemudian diperbandingkan dengan hasil simulasi dengan menggunakan gas
batubara. Parameter yang dianalisis adalah distribusi kecepatan, distribusi
temperatur, distribusi senyawa bahan bakar (CH4 untuk gas alam, CO dan H2
untuk gas batubara), distribusi senyawa oksidator (O2), distribusi senyawa produk
pembakaran (CO2), dan distribusi radikal (O dan OH).
iv
Hasil simulasi menunjukan penggunaan gas batubara akan menghasilkan
temperatur pusat kubah api yang sangat rendah. Hal ini dapat mengakibatkan
ketidakstabilan api dan api rentan padam. Fenomena ini disebabkan karena
beberapa faktor, diantaranya: lambatkan reaksi gas batubara, laju alir gas batubara
yang sangat besar dan kurangnya penetrasi udara ke dalam kubah api. Beberapa
faktor inilah yang mengharuskan modifikasi ruang bakar.
Modifikasi dilakukan dengan cara menambahkan udara ke dalam kubah
api. Modifikasi ini cukup efektif dalam meningkatkan temperatur pusat kubah api,
meskipun belum mampu menyerupai distribusi temperatur pada penggunaan gas
alam.
Jadi ruang bakar turbin gas jenis silo yang dirancang berbahan bakar gas
alam dimungkinkan menggunakan gas batubara namun perlu dilakukan
modifikasi.
Perpustakaan Digital ITB