digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Marianus Andre Neka
PUBLIC Open In Flipbook Esha Mustika Dewi

COVER Marianus Andre Neka
PUBLIC Open In Flipbook Esha Mustika Dewi

BAB 1 Marianus Andre Neka
PUBLIC Open In Flipbook Esha Mustika Dewi

BAB 2 Marianus Andre Neka
PUBLIC Open In Flipbook Esha Mustika Dewi

BAB 3 Marianus Andre Neka
PUBLIC Open In Flipbook Esha Mustika Dewi

BAB 4 Marianus Andre Neka
PUBLIC Open In Flipbook Esha Mustika Dewi

BAB 5 Marianus Andre Neka
PUBLIC Open In Flipbook Esha Mustika Dewi


Sungai Benenain merupakan sungai dengan karakteristik morfologi yang dinamis akibat interaksi antara aliran, angkutan sedimen, dan geometri alur. Pada ruas hilir, kelengkungan sungai menyebabkan distribusi energi aliran yang tidak seragam sehingga memengaruhi proses erosi dan deposisi, khususnya pada tikungan sungai. Penelitian ini bertujuan menganalisis laju angkutan sedimen dan implikasinya terhadap perubahan dasar sungai serta erosi pada tikungan, sekaligus mengevaluasi skenario penanganan yang sesuai dengan karakteristik hidrodinamika dan morfologi lokal. Analisis dilakukan pada ruas hilir Sungai Benenain sepanjang ±5,96 km selama periode 2019–2023 menggunakan formulasi angkutan sedimen Van Rijn serta pemodelan hidrodinamika dan morfologi satu dimensi (1D) dan dua dimensi (2D) dengan HEC-RAS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan debit dari 1,5 m³/det menjadi 100 m³/det meningkatkan laju angkutan sedimen total dari 0,007715 ton/hari menjadi 868,882805 ton/hari, dengan dominasi angkutan sedimen dasar. Peningkatan kecepatan dan tegangan geser juga diikuti oleh degradasi dasar hingga ?0,7621 m, yang menunjukkan keterkaitan antara energi aliran, mobilisasi sedimen, dan perubahan morfologi sungai. Pada tiga tikungan kritis, perbedaan geometri alur menghasilkan distribusi kecepatan, tegangan geser, serta zona erosi–deposisi yang berbeda. Evaluasi skenario menunjukkan bahwa kombinasi krib–revetment lebih sesuai diterapkan pada Tikungan 1 dan Tikungan 2, sedangkan revetment lebih sesuai pada Tikungan 3. Skenario tersebut mampu mengurangi konsentrasi energi aliran pada tebing luar dan menghasilkan respons perubahan dasar yang lebih terkendali. Hasil penelitian menegaskan bahwa penanganan erosi tikungan tidak dapat diterapkan secara seragam, tetapi perlu ditentukan berdasarkan keterkaitan antara angkutan sedimen, karakteristik hidrodinamika, dan respons morfologi lokal pada setiap tikungan.