digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Transisi energi di Indonesia menargetkan dekarbonisasi sektor kelistrikan sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) 7. Kendati upaya pemerintah untuk menekan jumlah pembangkit berbahan bakar fosil terus dilakukan, capaian pertumbuhan energi terbarukan pada tahun 2023 baru berkontribusi sebesar 12,06% terhadap bauran energi nasional. Energi biomassa menjadi salah satu strategi yang direncanakan pemerintah dalam program de-dieselisasi dalam hal mendukung upaya pertumbuhan bauran energi terbarukan. Pelet kayu Calliandra calothyrsus diusulkan sebagai bahan bakar energi biomassa karena daur hidupnya yang cepat, memiliki nilai kalor tinggi, serta kemampuannya tumbuh di lahan marginal. Penelitian ini bertujuan mengkaji kelayakan pembangunan pembangkit listrik biomassa (PLTBm) berkapasitas 50,9 MW dengan bahan bakar pelet kayu Calliandra pada tiga lokasi di Pulau Jawa, yaitu Sukabumi, Purwodadi, dan Saradan. Analisis yang dilakukan adalah tekno-ekonomi menggunakan RETScreen dengan menerapkan tiga skenario, meliputi tarif dasar pembelian listrik $0,0929/kWh, subsidi karbon $10/tCO?, dan skenario eskalasi tarif dengan tarif awal $0,111/kWh yang naik 1%/tahun. Penelitian ini merupakan studi kelayakan pertama yang mengkaji penggunaan pelet kayu Calliandra untuk PLTBm skala besar sekaligus mengintegrasikan mekanisme subsidi karbon dalam pemodelan keuangannya. Hasil analisis menunjukkan seluruh lokasi tidak layak secara finansial pada tarif dasar saat ini. Penerapan subsidi karbon meningkatkan kelayakan finansial seluruh lokasi, di Sukabumi, NPV naik dari –$8,3 juta menjadi $14,8 juta dan IRR dari –3,7% menjadi 4,6%. Di Purwodadi, NPV meningkat dari $1,6 juta menjadi $24,8 juta dan IRR dari –1,2% menjadi 7,9%. Sementara itu, di Saradan NPV meningkat dari –$5,9 juta ke $17,3 juta dan IRR dari –10,3% ke 5,4%. Penerapan eskalasi tarif memberikan dampak yang lebih besar dengan NPV mencapai $25,9 juta di Sukabumi, $35,8 juta di Purwodadi, dan $28,4 juta di Saradan, serta periode pengembalian modal kurang dari 2,5 tahun di seluruh lokasi. Dari tiga lokasi, hanya Purwodadi yang menunjukkan kinerja positif pada semua skenario, sementara Sukabumi dan Saradan baru beralih menjadi layak secara finansial pada skenario intervensi. Strategi yang direkomendasikan adalah memprioritaskan pengembangan PLTBm di Purwodadi, dengan menerapkan subsidi karbon pada tahap awal.