digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Lisa Agnesari
PUBLIC Open In Flipbook Yoninur Almira

BAB 1 Lisa Agnesari
PUBLIC Open In Flipbook Yoninur Almira

BAB 2 Lisa Agnesari
PUBLIC Open In Flipbook Yoninur Almira

BAB 3 Lisa Agnesari
PUBLIC Open In Flipbook Yoninur Almira

BAB 4 Lisa Agnesari
PUBLIC Open In Flipbook Yoninur Almira

BAB 5 Lisa Agnesari
PUBLIC Open In Flipbook Yoninur Almira

BAB 6 Lisa Agnesari
PUBLIC Open In Flipbook Yoninur Almira

PUSTAKA Lisa Agnesari
PUBLIC Open In Flipbook Yoninur Almira

LAMPIRAN Lisa Agnesari
PUBLIC Open In Flipbook Yoninur Almira

Kawasan Teluk Youtefa merupakan kawasan pesisir dan perairan teluk yang penting di Kota Jayapura. Kawasan ini memiliki nilai fungsi ekologis konservasi dan menjadi ruang hidup masyarakat adat. Bahkan beberapa tahun terakhir ini, ruang ini semakin dipengaruhi oleh perkembangan kota. Peningkatan aksesibilitas, pertumbuhan permukiman, aktivitas perdagangan dan jasa, wisata, serta berbagai bentuk pemanfaatan ruang lainnya telah menimbulkan tekanan terhadap fungsi ruang kawasan sebagai kawasan lindung. Kondisi tersebut menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara fungsi ruang yang direncanakan dengan pemanfaatan ruang eksisting yang tidak cukup dipahami sebagai persoalan spasial-administrasi. Ketidaksesuaian ini juga terbentuk melalui keterkaitan antara perubahan kondisi ekologis, kebutuhan ruang, perilaku aktor, tata kelola formal-adat, dan aktivitas pemanfaatan sumber daya pesisir. Untuk itu, perspektif Sistem Sosial-Ekologi digunakan untuk menjelaskan ketidaksesuaian ruang sebagai hasil interaksi antara sistem sosial dan sistem ekologis. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan proses terbentuknya ketidaksesuaian pemanfaatan ruang di kawasan Teluk Youtefa melalui interaksi sistem sosialekologi serta merumuskan implikasinya terhadap arahan pengendalian pemanfaatan ruang yang sesuai dengan karakteristik kawasan. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus dengan analisis kuantitatif-spasial dan kualitatif. Analisis kuantitatif-spasial dilakukan melalui overlay data rencana tata ruang, status kawasan hutan, blok taman wisata alam, hak atas tanah, dan pemanfaatan ruang eksisting. Analisis kualitatif dilakukan melalui wawancara, observasi lapangan, dan telaah dokumen, kemudian dianalisis secara tematik dengan menggabungkan temuan dari data lapangan dan kerangka Sistem SosialEkologi yang mencakup aktor, sistem tata kelola, sistem sumber daya, unit sumber daya, interaksi, outcome, serta konteks sosial-ekonomi-politik dan ekologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketidaksesuaian terjadi di dalam kawasan taman wisata alam, hutan lindung, dan kawasan ekosistem mangrove. Pada kawasan ini berkembang aktivitas permukiman, perdagangan dan jasa, pergudangan, dan wisata, terutama pada kawasan-kawasan yang memiliki aksesibilitas tinggi serta kedekatan dengan fasilitas perkotaan. Pola ini menunjukkan bahwa aksesibilitas, daya tarik ekonomi kawasan pesisir, danii perkembangan infrastruktur menjadi faktor yang memperkuat perubahan pemanfaatan ruang. Faktor yang memengaruhi ketidaksesuaian pemanfaatan ruang di kawasan Teluk Youtefa meliputi perubahan dan tekanan ekologis; tekanan perluasan kota dan perubahan pemanfaatan ruang pesisir; kelemahan dan ketidaksinkronan tata kelola; konflik tenurial dan dualisme legitimasi ruang; peran, kapasitas, dan partisipasi aktor; adaptasi dan respons kebijakan terhadap kondisi keterlanjuran; serta perbedaan pemaknaan nilai sosial-ekologis dan fungsi konservasi. Dalam perspektif Sistem Sosial-Ekologi, faktor-faktor tersebut tidak bekerja secara terpisah, tetapi saling berinteraksi. Tekanan sosial-ekonomi, aksesibilitas, dan ekologis memengaruhi aktor dalam memanfaatkan ruang, sementara kelemahan tata kelola membatasi efektivitas pengendalian. Di sisi lain, klaim adat, status formal kawasan, dan hak atas tanah membentuk dasar legitimasi ruang yang tidak selalu sejalan. Ketidaksesuaian ini merupakan outcome dari interaksi antara aktor, tata kelola, sistem sumber daya, unit sumber daya, dan aktivitas pemanfaatan ruang. Interaksi tersebut menghasilkan outcome berupa ketidaksesuaian pemanfaatan ruang, tekanan terhadap ekosistem pesisir, konflik pemanfaatan, dan kebutuhan pengendalian ruang yang lebih terpadu. Penelitian sejenis umumnya menempatkan ketidaksesuaian pemanfaatan ruang sebagai hasil overlay spasial, perubahan penggunaan lahan, atau persoalan kepatuhan terhadap rencana tata ruang. Sementara, penelitian ini melihat ketidaksesuaian pemanfaatan ruang dari perspektif Sistem Sosial-Ekologi untuk menjelaskan bahwa ketidaksesuaian pemanfaatan ruang di kawasan pesisir bukan hanya persoalan perbedaan antara rencana dan kondisi eksisting, melainkan outcome dari interaksi antara aktor, tata kelola, sumber daya, unit sumber daya, dan aktivitas pemanfaatan ruang. Penelitian ini juga menjadikan Teluk Youtefa sebagai wilayah studi yang merupakan pertemuan antara kawasan konservasi, ruang adat, tekanan perluasan kota, dan ekosistem pesisir dalam satu sistem yang saling terkait. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pengendalian pemanfaatan ruang di Teluk Youtefa perlu dilakukan secara terpadu dn adaptif dengan mempertimbangkan aspek spasial, ekologis, kelembagaan, dan sosial-adat. Secara praktis, penelitian ini memberikan dasar bagi penyusunan arahan pengendalian pemanfaatan ruang yang tidak hanya berbasis regulasi dan peta rencana, tetapi juga mempertimbangkan interaksi aktor, tata kelola, nilai ekologis, dan legitimasi sosial yang membentuk pemanfaatan ruang di lapangan. secara keilmuan, penelitian memperkuat pemahaman mengenai ketidaksesuaian pemanfaatan ruang sebagai persoalan sosial-ekologis, sekaligus menunjukkan kegunaan kerangka Sistem Sosial-Ekologi dalam menganalisis dinamika pemanfaatan ruang kawasan pesisir.