Model pembelajaran berbasis fisika seperti Symplectic Hamiltonian Neural
Network (SHNN) dikembangkan untuk mempelajari dinamika sistem Hamiltonian
dengan tetap mempertahankan struktur ruang fase dan konservasi energi. Secara
teoretis, penggunaan struktur Hamiltonian dan integrator simplektik diharapkan
mampu meningkatkan kestabilan prediksi jangka panjang. Namun, kemampuan
SHNN ketika diuji pada kondisi out-of-distribution (OOD) masih menjadi
persoalan penting, terutama ketika parameter fisis dan level energi pengujian
berada di luar domain data pelatihan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi
kemampuan SHNN pada kondisi OOD serta menganalisis keterkaitan kegagalan
model dengan galat trajektori, deviasi energi, galat medan vektor Hamiltonian,
simplektisitas peta rollout, dan ketidakakuratan Hamiltonian yang dipelajari model
(learned Hamiltonian). Sistem yang dikaji adalah pegas bermassa sebagai
representasi sistem linier dan bandul sederhana sebagai representasi sistem
nonlinier. Data latih dibangkitkan menggunakan integrator Gauss–Legendre dua
tahap (GL2) karena memiliki sifat simplektik dan sesuai dengan karakter sistem
Hamiltonian. Validasi data dilakukan dengan membandingkan hasil GL2 terhadap
solusi analitik melalui lintasan terhadap waktu, ruang fase, dan profil energi. Model
SHNN kemudian dievaluasi melalui beberapa skenario, yaitu baseline berbasis
rollout loss, SHNN dengan loss berbasis integrator, serta perbandingan integrator
rollout GL2 dan Ralston RK2 pada tahap evaluasi. Metrik evaluasi yang digunakan
meliputi NRMSE trajektori, NRMSE deviasi energi, NRMSE medan vektor
Hamiltonian, dan galat simplektisitas ?D?TJD? ? J?F. Verifikasi pada kondisi in-
distribution (ID) menunjukkan bahwa model secara umum mampu merekonstruksi
struktur dasar dinamika dalam domain pelatihan, meskipun tingkat akurasinya
berbeda antar-model. Dengan demikian, penyimpangan pada kondisi OOD lebih
berkaitan dengan keterbatasan generalisasi di luar distribusi pelatihan daripada
ketidakmampuan model mempelajari dinamika dalam domain tersebut. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa SHNN mampu menghasilkan prediksi pada kondisi
OOD, tetapi kemampuan generalisasinya belum konsisten. Pada beberapa kasus
OOD tinggi, model masih mampu membentuk orbit ruang fase yang secara kualitatif menyerupai referensi, tetapi belum selalu tepat dalam amplitudo,
momentum, periode, dan energi. Pada kasus OOD rendah, terutama ketika energi
sistem berada jauh di bawah domain pelatihan, model lebih mudah mengalami
penyimpangan. Hasil evaluasi juga menunjukkan bahwa deviasi energi yang kecil
dan peta rollout yang hampir simplektik tidak selalu menjamin bahwa lintasan
model benar secara fisis. Hal ini terjadi karena dinamika model ditentukan oleh
learned Hamiltonian dan gradiennya. Jika medan vektor Hamiltonian yang
dipelajari tidak mendekati medan vektor fisis, galat lokal dapat terakumulasi selama
rollout jangka panjang. Kebaruan penelitian ini terletak pada analisis terpadu
terhadap kemampuan OOD SHNN melalui lintasan ruang fase, konservasi energi,
medan vektor Hamiltonian, dan simplektisitas peta rollout. Penelitian ini
menunjukkan bahwa kegagalan SHNN pada OOD lebih tepat dipahami sebagai
keterbatasan learned Hamiltonian dan medan vektor Hamiltonian dalam
mengekstrapolasi struktur dinamika fisis, bukan semata-mata akibat integrator
numerik.
Perpustakaan Digital ITB