Framing merupakan cara media membingkai suatu peristiwa atau kelompok sosial
melalui pilihan kata, penekanan, dan perspektif editorial, sehingga membentuk
persepsi pembaca terhadap realitas yang diberitakan. Surat kabar berbahasa Belanda
pada masa kolonial merepresentasikan framing kolonial terhadap Indonesia yang
dapat dikelompokkan ke dalam lima kategori, yaitu colonial violence, political
surveillance, racial hierarchy, sovereignty/decolonization conflict, dan neutral/
background. Skala korpus yang mencapai 656.997 artikel menjadikan identifikasi
framing secara manual kurang memungkinkan secara praktis, sehingga dibutuhkan
pendekatan komputasional untuk menganalisis distribusi dan pergeseran framing
secara menyeluruh.
Identifikasi framing secara komputasional memerlukan data latih berlabel dan
model klasifikasi. Pembangunan data latih dalam penelitian ini melibatkan
pemodelan topik dengan BERTopic untuk mengidentifikasi topik dominan beserta
judul, deskripsi, dan distribusi temporalnya sebagai dasar pemilihan sampel
anotasi. Pemodelan topik menghasilkan 15 topik dominan pada rentang 1880–1960,
dengan tema administrasi militer kolonial dan dinamika kedaulatan/dekolonisasi
sebagai yang paling menonjol. Anotasi dilakukan secara manual oleh dua anotator
independen dengan reliabilitas antar-anotator diukur menggunakan koefisien
Krippendorff ? untuk membangun gold dataset yang diperkaya guided labelling
pada kelas minoritas, serta secara semi-otomatis menggunakan LLM untuk silver
dataset, menghasilkan masing-masing 566 dokumen (? = 0,866) dan 4.463
dokumen.
Klasifikasi teks dievaluasi menggunakan empat arsitektur model, mulai dari regresi
logistik berbasis TF-IDF dan sentence embedding hingga model transformer
RobBERT-2023 dengan LoRA, pada tiga skema komposisi data pelatihan. Model
terbaik yang diperoleh adalah RobBERT-2023 dengan LoRA pada skema silver
pretrain-annotated finetune (macro F1-score 0,816), yang kemudian digunakan
untuk memprediksi 656.997 artikel dan menunjukkan pergeseran framing dari
dominasi netral ke kekerasan kolonial pada masa Perang Aceh hingga framing
kedaulatan menjelang revolusi kemerdekaan, konsisten dengan distribusi temporal
pemodelan topik. Identifikasi subtopik menggunakan BERTopic sekunder pada tiap
kategori non-netral mengungkap bahwa framing kekerasan terpusat pada liputan
Perang Aceh, framing kedaulatan terstruktur di sekitar perundingan diplomatik, dan
framing pengawasan politik mencakup penindasan gerakan nasionalis, sementara
hierarki rasial tersebar lintas berbagai konteks wacana.
Perpustakaan Digital ITB