Cekungan Jawa Timur Utara merupakan salah satu cekungan sedimen di Indonesia dengan potensi reservoir karbonat yang signifikan, salah satunya pada Formasi Kujung. Kompleksnya sistem pori dan kualitas reservoir pada batuan karbonat dikontrol secara kuat oleh dua faktor utama, yaitu variasi lingkungan pengendapan primer (fasies) dan proses ubahan setelah pengendapan (diagenesis). Proses diagenesis sendiri dapat mengubah porositas batuan secara drastis dan berpengaruh pada penentuan potensi hidrokarbon. Oleh karena itu, dibutuhkan pendekatan melalui pengelompokan tipe batuan (rock type) untuk mengevaluasi korelasi antara fasies dan diagenesis dalam memetakan karakter reservoir secara lebih akurat.
Data yang digunakan dalam analisis ini adalah data sumur lapangan dan analisis laboratorium berupa data batuan inti, data routine core, data petrografi berupa sayatan tipis, dan data seismik 3D. Deskripsi dilakukan pada data batuan inti dan sayatan tipis petrografi untuk menentukan lingkungan pengendapan serta identifikasi proses diagenesis. Metode Flow Zone Indicator digunakan untuk mengelompokkan kualitas batuan terhadap pengolahan porositas dan permeabilitas.
Hasil analisis untuk lingkungan pengendapan di area penelitian terbagi menjadi sembilan litofasies, yaitu Bioclastic Wackestone, Bioclastic Packstone, Mudstone, Skeletal Wackestone, Skeletal Packstone, Skeletal Floatstone, Coral Floatstone, Coral–Skeletal Floatstone, dan Coral-Alga Floatstone dengan tiga asosiasi fasies, yaitu Platform interior, Platform margin dan Foreslope, dengan indikasi proses diagenesis berupa mikritisasi, neomorfisme, kompaksi, replacement, sementasi, pelarutan, dan dolomitisasi. Analisis FZI mengelompokkan batuan ke dalam delapan Discrete Rock type (DRT), tetapi hasil evaluasi membuktikan bahwa tipe batuan tidak memiliki korelasi yang cukup kuat dengan lingkungan fasies. Dari delapan Discrete Rock type (DRT) dikelompokkan kembali menjadi tiga tipe batuan utama berdasarkan variasi tipe pori. Rock type 1 (kualitas baik) dengan nilai FZI 1.4081 – 4.9420 dan permeabilitas 21.9 – 602 mD, rock type 2 (kualitas menengah) dengan nilai FZI 0.7206 – 1.408 dan permeabilitas 1.01 – 71.6 mD, dan rock type 3 (kualitas buruk) dengan nilai FZI 0.4728 – 0.692 dan permeabilitas 1.03 – 19.7 mD. Hasil pengelompokan ini menunjukkan bahwa porositas sekunder lebih memegang peran penting dalam menentukan kualitas reservoir dibandingkan dengan lingkungan pengendapan.
Perpustakaan Digital ITB