digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Abtrak
PUBLIC Open In Flipbook Nugi Nugraha

Industri tekstil dan garmen memiliki tuntutan kerja tinggi serta kondisi lingkungan yang kompleks, sehingga berisiko menimbulkan burnout pada pekerja. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor penyebab burnout dan menguji pengaruh faktor fisik lingkungan kerja (kebisingan, iklim kerja panas, PM2,5, PM10 dan pencahayaan) terhadap tingkat burnout. Selain itu, penelitian ini menilai hubungan burnout dengan perilaku keselamatan kerja, yang mencakup safety compliance dan safety participation. Penelitian dilakukan pada pekerja produksi di bagian garmen PT X dengan pendekatan kuantitatif. Data dikumpulkan melalui kuesioner skala Likert, burnout diukur menggunakan Maslach Burnout Inventory–General Survey (MBI-GS), faktor penyebab burnout menggunakan Job Demands–Resources (JDR) Model dan perilaku keselamatan kerja melalui instrumen yang diadaptasi dari penelitian terdahulu. Faktor fisik lingkungan kerja diperoleh melalui pengukuran langsung di area produksi. Analisis data dilakukan menggunakan Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM), uji bootstrapping dan korelasi Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa job demands (tekanan kerja, risiko dan bahaya) serta job resources (pengetahuan keselamatan, dukungan sosial) berpengaruh signifikan terhadap burnout. Faktor fisik lingkungan kerja, khususnya iklim kerja panas, PM2,5, PM10 dan intensitas pencahayaan, terbukti berpengaruh signifikan terhadap burnout, dengan PM2,5 sebagai faktor dominan. Sebaliknya, kebisingan berkorelasi negatif namun tidak signifikan. Burnout juga memiliki hubungan negatif signifikan dengan perilaku keselamatan kerja, yang berarti semakin tinggi burnout, semakin rendah kepatuhan dan partisipasi pekerja terhadap keselamatan. Temuan ini menegaskan pentingnya pengelolaan beban kerja, penguatan dukungan sosial, serta pengendalian paparan PM2,5 sebagai strategi pencegahan burnout dan peningkatan budaya keselamatan kerja di industri garmen.